Menurut Anggota Dewan TIK Nasional (DetikNas), Zaenal A. Hasibuan, pendekatan yang harus dilakukan di Indonesia akan berbeda dengan negara lain dalam membangun e-health. Apa pasal? Di negara ini, kata dia, susah jika harus menuntut kesadaran masyarakatnya. Untuk itu, peran  leader sangat memengaruhi terwujudnya sistem ini yang lebih baik.

Ia menceritakan selama ini kegiatan-kegiatan ke arah e-health memang kerap berlangsung, namun sayangnya mereka yang memiliki kepentingan di sektor ini masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Padahal, keterlibatan mereka sangat diperlukan. Misalnya saja, rumah sakit tidak bisa dilepaskan dengan tenaga medis. Begitu juga dengan rumah sakit dan tenaga medis yang tidak bisa terpisahkan dengan apotek. Pun demikian dengan Apotek yang tak bisa dianggap berjalan sendiri tanpa industri obat-obatan. Hal yang sama juga terjadi di industri obat-obatan yang tidak bisa terbantahkan adanya farmasi. Jika semua yang memiliki kepentingan di sektor ini mampu bersinergi, maka keniscayaan terintergrasikannya e-health di tahun 2014 tidak sekadar isapan jempol semata.

“Yang jelas, butuh seorang leader yang peduli terhadap permasalahan di e-health ini. Jadi harus punya visi,” ungkapnya. Meski begitu, untuk saat ini, kata dia, yang harus dilakukan adalah perubahan secara bertahap agar nantinya target di tahun ini, e-health mampu dirasakan oleh masyarakat luas walaupun ada beberapa aplikasi yang sudah diterapkan oleh rumah sakit tapi masih terbatas. “Memang perubahan itu harus dilakukan secara bertahap,” tandas Zaenal.