Teknopreneur.com- Demi memperbaiki standar dan mutu layanan kesehatan di Indonesia, sepertinya pemerintah, rumah sakit, dan dokter sepakat bahwa e-Health merupakan salah satu solusinya. Untuk memulainya, saat ini berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, dari sekitar 2000 Rumah Sakit Swasta dan Negeri, 740 Rumah Sakit sudah memiliki Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), dan 82% Rumah Sakit di Kabupaten Kota Pemerintah  terhubung dengan internet.

Tak hanya berhenti sampai pembangunan sistem saja, dan semua selesai, karena dalam menerapkan e-Health tak dapat dilakukan oleh satu atau dua pihak saja. Ada banyak pihak yang harus turut serta di dalamnya. Karena e-Health merupakan bagian dari ekosistem kesehatan. Selain komitmen dari penyelenggara jasa kesehatan untuk melakukan modernisasi dari perangkat dan infrastruktur yang digunakannya, ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia untuk meneruskan layanan ini.

 Menurut Zainal A. Hasibuan, anggota Detiknas yang ikut menginisiasi program strategis e-Health  mengatakan Indonesia merupakan negara yang kompleks. “Sebenarnya komponen-komponen e-Health sudah ada disana-sini, meskipun masih ada yang bolong-bolong,” ungkapnya.

Hanya saja menurutnya untuk menjadikan e-Health menjadi sistem yang terintegrasi, terpadu, dan melibatkan banyak stake holder, masih menjadi pekerjaan rumah bagi Menteri Kesehatan yang baru.

Zainal menjelaskan perkembangan e-Health hingga saat ini masih membangun sistemnya sendiri-sendiri. Banyak orang salah sangka, menganggap sistem e-Health yang terintegrasi  dimaknai seolah-olah sebagai sesuatu yang tersentralisasi, seolah-olah menjadi satu sistem dikuasai satu badan. Padahal terintegrasi adalah antara sistem satu dan lainnya bisa berkomunikasi dengan baik, sehingga sumberdaya manusia yang jumlahnya terbatas bisa mendapatkan hasil yang optimal. Terintegrasi tidak mengurangi otoritas masing-masing stake holder, hanya saling berkomunikasi dengan baik antara stake holdernya.