Nampaknya keseriusan dunia mengurangi penggunaan bahan bakar fosil kian gencar. Bahkan konon sudah ditetapkan bahwa penggunaan bahan bakar fosil tanpa batas harus dihapus tahap demi tahap pada tahun 2100. Kesepakatan itu diungkapkan oleh Panel Perubahan Iklim Antarpemerintah (IPCC) dalam sebuah laporan terbarunya. Laporan itu dengan tegas menyebutkan bahwa sebagian besar listrik di dunia ini dapat dan harus diproduksi dari sumber-sumber berkarbon rendah tahun 2050.

Dalam laporan yang dikutip dari BBC, menyebutkan juga jika tidak segera ditangani, maka dunia akan menghadapi kerusakan yang berat, menyebar luas dan tidak bisa diubah lagi. PBB mengatakan tidak melakukan apa-apa dapat menyebabkan ‘lebih banyak biaya keluar’ dibanding mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan.
Laporan IPCC yang berjudul Synthesis diterbitkan pada akhir pekan lalu di Kopenhagen, Denmark, setelah berlangsungnya perdebatan sengit antara para ilmuwan dan pejabat pemerintah. Laporan ini dimaksudkan untuk memberi tahu para politisi untuk melibatkan diri dalam upaya-upaya mewujudkan traktat global baru mengenai iklim pada akhir tahun 2015.

Ditambahkan bahwa mengurangi emisi sangatlah penting jika pemanasan global ingin dibatasi sampai dengan ambang batas 2C, target yang diakui pada tahun 2009 sebagai ambang batas perubahan iklim yang berbahaya. Sementara energi yang terbarukan harus tumbuh dari 30 persen pangsa pasar saat ini menjadi 80 persen dalam sektor tenaga listrik pada tahun 2050.

Dalam jangka waktu lebih panjang, laporan itu menyebutkan bahwa pembangkit listrik bertenaga bahan bakar fosil tanpa teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture dan storage/CCS) harus dihapus tahap demi tahap sampai seluruhnya pada tahun 2100.
Usaha yang dikemas dari laporan itu, patut kita apresiasi. Namun, pada kenyataan sudah banyak hal-hal serupa yang hanya menjadi wacana dan tumpukkan file saja. Lalu, muncullah pertanyaan, apakah target yang ditetapkan itu bakal terwujud? Atau hanya sekadar isu meramaikan kampanye lingkungan hidup? Kita tunggu saja.