Teknopreneur.com – Menurut Country Manager EMC, Adi Rusli menyatakan,“ IDC melihat di tahun 2015 layanan public cloud di Indonesia untuk  infrastruktur as a services (IaaS) diprediksi akan mencapai 55%. Sedangkan, pengadopsian cloud untuk software as a services (SaaS) hanya 19% dan platform as a services lebih kecil dibanding SaaS.”

Ia melihat, Private cloud sebenarnya hampir seperti tradisional IT yang membedakan adalah layanan cloud tersebut memberikan kemudahan dari sisi self services, on demand, dan elastis tapi masih dalam ruang lingkup tertutup. “Jadi itu akan tumbuh 4%, artinya potensi pasarnya cukup besar,”ujarnya.

Sementara, public adopsinya akan semakin besar karena customer sudah bisa melihat benefit yang bisa didapatkan dari sisi efisiensi, baik itu dari cost, aset, bahkan mereka tidak perlu lagi membuat pembukuan secara fisik. “Para Customer bisa mendapatkan pilihan untuk ke cloud provider tertentu, sehingga mereka akan memperoleh fleksibilitas serta kemudahan, seperti sign up ke Gmail itu kan gampang banget. Nah, potensi pertumbuhan public sangatlah besar di Indonesia,” ucap Adi.

Kemudian ia menambahkan, yang dilakukan oleh EMC service cloud adalah membangun jembatan antara kedua layanan tersebut. Adi menjelaskan,“Hal tersebut dilakukan, agar para customer bisa deployed private cloud sehingga kapanpun dan dimanapun  mereka akan memiliki service dari public cloud dapat dengan mudah diintegrasikan,bukan dari sisi aplikasi melainkan dari layer infrastruktur. Jadi, untuk memudahkan customer dalam memindahkan data, dari menggunakan layanan private cloud ke layanan public cloud.”

Adi menjelaskan, yang kita lakukan biasanya adalah suggest customer untuk konsolidasi, dan berikutnya standarisasi karena dengan hal tersebut para customer akan mendapatkan banyak kemudahan. Setalah itu, bagaimana customer dapat mengefisiensikan infrastruktur yang sudah dibangun, salah satunya dengan virtualisasi sehingga dapat menghemat biaya untuk data center dan juga memudahkan dalam sisi pengelolaannya.