Teknopreneur.com – Model bisnis crowdsourcing memang kini sedang mulai dilirik startup di negeri ini. Terbukti dari beberapa pemain di bisnis ini sudah mulai terlihat. Meski begitu, tak secuil dari mereka harus tumbang.

Founder sekaligus CEO Sribu.com, Ryan Gondokusumo, yakin jika bisnis yang dijalaninya mampu berkembang dan berujung kesuksesan. Pasalnya, kata dia, potensi untuk berkembangnya industri ini terbuka lebar. Indikatornya adalah banyaknya jumlah komunitas yang ada di negeri ini. Misalnya saja usaha besutannya yang menggunakan jasa dari para pekerja lepas disain grafis. Namun, dirinya pun mengakui jika perkembangan di bisnis ini tidak signifikan. “Ada beberapa situs yang mencoba untuk masuk ke industri crowdsourcing namun tidak bertahan lama. Namun ada potensi bagi industri crowdsourcing untuk berkembang,” katanya saat dihubungi via email oleh Teknopreneur.com

Permasalahannya adalah belum terbiasanya masyarakat negeri ini menerima pola kerja semacam itu.  Hal itu pun diakui Ryan. “Selama ini di Sribu.com memang banyak orang-orang yang masih menggunakan cara konvensional dengan bertemu langsung, dan tidak begitu mengerti sistem kerja online, namun tim operasional Sribu akan menjelaskan kepada mereka sampai mereka menyadari kemudahan sistem kerja online,” ujarnya.

Lalu, apakah bisnis model seperti ini bisa bertahan lama? Managing Partner Ideosource, Andi S. Budiman berpendapat, lama tidaknya bisnis ini bisa bertahan terletak dari pasar mereka. Jika target mereka adalah luar negeri, kata dia, jelas bisnis mereka akan tumbuh dan mampu bertahan. Namun, bila pasarnya hanya di Indonesia, itu akan sulit. “Bertahan tapi soal berkembangnya masih harus menunggu waktu yang lama,” katanya. Ia pun menyarankan bahwa harus ada ekpansi pasar ke luar negeri jika melakukan bisnis itu. “Pasar negeri ini kan belum mature, jadi prospeknya masih bagus mengincar di luar negeri untuk saat ini,” jelasnya.