Teknopreneur.com – Pernah lihat bannner iklan besar hingga menutupi layar handphone Anda. Tentu risih bukan? Ternyata ketidaknyaman tersebut bukan hanya dialami Anda namun juga 16.708 orang juga mengalami hal yang sama. Merasa terganggu dengan iklan besar tersebut.

Dan selama ini yang kita pikir iklan mengganggu tersebut berasal dari situs yang ingin kita buka, padahal tidak sama sekali. Iklan yang berasal dari dua operator raksasa Indonesia Telkomsel dan XL Axiata,  tersebut tak izin pada pemilik situs, sehingga membuat geram lebih dari 105 situs yang berbada hukum di Indonesia.

Begitu juga dengan enam Asosiasi  yang terdiri idEA (Asosiasi E-Commerce Indonesia) dan IDA (Asosiasi Digital Indonesia),APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia), AAPAM (Association of Asia Pacific Advertising Media), dan P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia menyatakan penolakan terhadap praktik intrusive advertsing ini.

Lebih dari tiga kali mereka melayangkan keberatan untuk tindakan intrusive advertsing kepada dua perusahaan komunikasi raksasa tersebut, namun belum ada solusi yang berarti. Penawaran untuk berbagai keuntungan bukan yang dijadikan inti dari keberatan mereka. Namun ketidak adanya etika dalam perizinan periklanan membuat mereka geram. Seolah kedua operator tersebut asal masuk ke dalam halaman rumah tanpa izin dan merampok kekayaan situs mereka.

Maka situs www.stoptelcointrusiveads.com dilaunchingkan untuk  mengakomodir pemilik situs lain yang juga ingin menyatakan penolakan ini.  Selain formulir pendaftaran, situs ini juga mencakup percakapan di media sosial dengan #stoptelcointrusiveads, arsip liputan media, dan tautan ke halaman petisi di atas. Bagi masyarakat konsumen yang merasa terganggu dengan iklan ini dapat turut menandatangani petisi tersebut.

Para konsumen atau pemilik situs bisa  engetahui apakah situsnya terkena iklan intrusive ini melalui tool Google Analytic. Pada tab Acquisition, pilih bagian All Refferals untuk melihat daftar alamat situs yang didatangi terlebih dahulu sebelum pengguna masuk ke situs yang bersangkutan. Apabila salah satu dari alamat berikut termasuk dalam daftar, berarti situs tersebut juga terkena iklan.

  • Telkomsel           : http://ads.telkomsel.com/
  • XL Axiata              : http://ibnads.xl.co.id/

Andi Budimansyah selaku Ketua Umum PANDI, menyayangkan kejadian ini dan mendorong terjadinya dialog yang sinergis di antara penyedia konten, penyedia jaringan, dan masyarakat, termasuk dengan Pemerintah, untuk mendapatkan konsensus dalam meregulasi praktik seperti ini, sebelum para pelaku industri melakukan tindakan saling blokir, yang pada akhirnya akan merugikan konsumen.

Begitu juga dengan Sapto Anggoro selaku Sekretaris Jenderal APJII juga mengatakan “Praktik iklan ini tidak etis dan mengarah pada tindak kejahatan. Kami dari penyelenggara jasa internet juga tentunya bisa menayangkan iklan serupa untuk koneksi yang melalui jaringan kami. Namun kami tidak melakukan hal tersebut karena sadar bahwa itu tidak etis dan merugikan industri.”

Kekecewaan serupa juga diungkapkan oleh Jerry Justianto selaku Ketua AAPAM. “Sebenarnya iklan sisipan ini bisa menjadi bentuk iklan yang premium dan efektif apabila operator dan pemilik situs saling bekerja sama. Sangat disayangkan operator bertindak secara sepihak yang merugikan citra periklanan digital”

Danny Wirianto selaku Ketua Pengembangan Digital Advertising – P3I Pusat  pun geram karena praktik ini selain bertentangan dengan Etika Pariwara Indonesia juga bisa merusak mental para konsumen yang dibawah umur. Karena iklan n bisa berbau perjudian,pornografi dan pesaing dari pemilik situs.