Teknopreneur.com- Dahulu orang hanya berpikir ekonomi kreatif adalah tentang batik, tari, dan merangkai kerajinan. Padahal ekonomi kreatif tak hanya sekedar itu, ICT juga berhubungan erat dengan ekonomi kreatif.  Seperti games, pendidikan, musik, animasi, software dan sosial media. Di negara maju, ICT telah menjadi penggerak ekonomi dunia. Lihat saja Korea, dengan industri game online terbesar ke dua di dunia. Atau juga Silicon Valley di San Fransisco, pusatnya inovator-inovator hi-tech dari seluruh dunia.

Hal ini sesuai ide Forum Relawan Profesional dengan menggelar seminar nasional  ICT dan ekonomi kreatif bertema “ICT dan Ekonomi Kreatif Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat” (27/9). Dalam acara tersebut diumumkan sebuah terobosan baru dari rumah transisi bahwa ekonomi kreatif akan menjadi kementerian tersendiri, terpisah dengan kementerian pariwisata.

Hasnil Fajri, mantan anggota pokja rumah transisi mengatakan hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menggerakkan sektor riil. Ia juga mengatakan keputusan ini dapat mendorong Indonesia menjadi salah satu negara maju anggota G7 di tahun 2040 dan menjadi salah satu negara terdepan dalam ICT dan ekonomi kreatif di Asia dalam lima tahun ke depan.

Senada dengan Hasnil, Nonot Harsono, Komisaris Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menjelaskan bahwa Industri Kreatif akan menjadi peluang menumbuhkan lapangan pekerjaan yang masif. Dan untuk membuat masyarakat berperan aktif dalam industri ini, menurut Nonot perlu adanya perubahan mindsite masyarakat bahwa ICT adalah penggerak ekonomi dunia. Untuk menuju ke arah itu, Indonesia membutuhkan Infrastruktur ICT (Jejaring Broadband Nasional).

“Broadband nasional sama pentingnya dengan Jalan Tol dan Jembatan, ini merupakan hal yang harus ada dalam industri kreatif,” terang Nonot.