Teknopreneur.com – Berdasarkan data dari Kementrian Pekerjaan Umum, cakupan pelayanan air minum baru sekitar 27% untuk skala nasional. Berarti, masih ada 73% pelayanan air yeng belum terpenuhi. Masyarakat belum mendapatkan pelayanan air minum melalui sistem perpipaan yang layak.

Sedangkan menurut data Susenas tahun 2009-2010 terhadap persentase rumah tangga yang menggunakan air minum layak, baru sekitar 44-47% untuk skala Nasional. Artinya, sekitar 53-56% atau sekitar 34 juta rumah tangga di Indonesia (dengan asumsi rumah tangga Indonesia berjumlah 65 juta pada tahun 2010) belum mendapatkan air minum yang layak.

Belum lagi, permasalahan sanitasi di Indonesia. Baru sekitar 50% sanitasi yang layak untuk skala Nasional.Jumlah pasar akan mengalami peningkatan setiap tahunnya sesuai dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,33%. Di Indonesia sendiri, dengan jumlah penduduk mencapai lebih 200 juta, kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak. Kecenderungan konsumsi air diperkirakan terus naik hingga 15-35% pertahun.

Salah satu goals pemerintah dalam program MDGs (Millennium Development Goals) yaitu “Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015”. Akan tetapi, faktanya saat ini cakupan pelayanan air minum dengan sistem perpipaan masih rendah (Nasional 26,72%, perkotaan 35,03% & perdesaan 14,29%).

Dan menurut data BPS, 2009 sanitasi yang layak hanya 51,02% (perkotaan 69,55% dan perdesaan 34%) 3. Dengan meilhat data-data tersebut, bisnis teknologi pemurnian air dan pembangunan infrastruktur pengolahan air juga fasilitas sanitasi menjadi sangat dibutuhkan.

Maka dibutuhkan suatu teknologi yang bisa memenuhi kebutuhan akan air bersih, Ganesha Filter salah satunya. Sentuhan Inovasi adalah kewajiban dalam sebuah teknologi. Inovasi dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Hal ini juga yang dilakukan Alven dan timnya.

Proses pengolahan awal adalah dengan mengambil air sungai yang mengaliri didaerah tersebut untuk dijadikan air baku dalam pengolahan air. Kemudian ditampung didalam kolam penampungan yang sudah dibuat tujuannya sebagai sedimentasi air yang dapat memisahkan lumpur ataupun tanah. Setelah itu air yang sudah terjadi proses sedimentasi dialirkan ke pipa yang menuju rumah unit pengolahan air.

Di dalam rumah unit pengolahan air itu, terjadi proses pemasukan Kougulan (bahan pengendap) kemudian disaring menggunakan sand filter dari tahap ini sudah mencukupi untuk standarisasi air bersih. Lalu, ditampung dalam sebuah tangki air yang dapat mengalirkan air bersih tersebut ke pipa menuju WC umum dan Tempat Cuci (MCK).

Dan dari tahap pengolahan tersebut dapat ditingkatkan kembali kualitas air tersebut dengan inovasi teknologi membran keramilk yang dapat manyaring zat non-oraganik (polutan air)seperti logam besi, mangan bahkan bakteri yang masih ada di air tersebut. Sehingga 73%  kebutuhan air bersih yang belum terpenuhi bisa terbantu dengan teknologi lulusan ITB ini.