Teknopreneur.com – “Semakin terpencilnya suatu daerah justru semakin membuat orang untuk kreatif. Karena banyak masalah yang ada disekitarnya yang membuat ia kreatif untuk memecahkan persoalannya,” kata Ir. M. Zainudin, M.Eng Direktorat Paten Dirjen HKI.

Namun sayang tak banyak orang kreatif yang mau untuk mendaftarkan kekreatifannya ke Dirjen HKI. Baik sudah yang berbentuk invensi atau inovasi. Padahal itu sayang sekali. Mindsetnya yang harus diubah, masyarakat selalu berpikir mahalnya daftar HKI, ribetnya ngurus pematenan. Dan tak tahu apa manfaat dibalik semua itu?

Invensi yang dilindungi dengan sistem paten bisamencegah pihak lain mengeksploitasi potensi ekonomi dari hasil RnD, mencegah pihak lain melakukan pengembangan hasil RnD tanpa izin (lisensi), atau tanpa mengikutsertakan pihak yang pertama kali menghasilkan suatu teknologi, mencegah pihak lain lebih dulu mematenkan hasil   RnD  sehingga bebas melakukan penggunaan atau pengembangan terhadap teknologi/invensi itu tanpa mendapat hambatan dari pihak lain,enjadi sarana iklan yang bersifat global, dan dapat meningkatkan prestise atau nilai jual pihak penghasil teknologi karena memiliki banyak paten.

Menurut data OHIM, Prospective Study about Design Registration Demand at a European Union Level (2002), HKI harus dilindungi karena 70% Untuk mencegah dipalsukan, 23,4%Kebijakan perusahaan/ kerajinan, 20,3%bisa Mendahului kompetitornya, 10,1%meningkatkan Prestige (harkat) perusahaan dan 6,5%Untuk mencegah dikatakan barang palsu.

Selain itu dengan mematenkan invensi maka kita memiliki hak eksklusif untuk melarang dan/atau memberi izin pihak lain untuk melakukan upaya-upaya komersial dari paten yang dimilikinya (aset bisnis intangible) ;Kemudahan/keamanan dalam pengembangan pasar, peringatan bagi yang berniat melanggar dan memiliki bukti kepemilikan yang akan memudahkan dalam perjanjian lisensi.