Teknopreneur.com – Minimnya persediaan bahan bakar sebagai sumber energi terbesar di Indonesia nampaknya kian meresahkan pemerintah. Belakangan, pemerintah melakukan penghematan penggunaan bahan bakar untuk kendaraan roda empat sebagai langkah antisipasi mencegah kelangkaan bensin dan solar.

Namun, langkah tersebut dianggap belum menjadi solusi bagi minimnya persediaan bahan bakar. Kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan tak jarang justru meningkatkan harga jual berbagai barang kebutuhan di banyak wilayah, terutama daerah terpencil. Hal tersebut dapat membuat daya beli masyarakat menurun.

Kondisi ini membuat pemerintah di bawah Kementrian Riset dan Teknologi mencari alternatif lain untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar untuk kendaraan. Salah satunya dengan mengembangkan kendaraan listrik. Langkah ini dinilai mampu menjadi solusi terbarukan. Energi listrik dapat menjadi pengganti solar atau bensin untuk menggerakkan kendaraan sehingga penggunaan bahan bakar tersebut dapat menurun.

Bukti keseriusan pemerintah dalam mengambangkan kendaraan listrik ini terlihat dari terus dikembangkannya baterai lithium. Dalam mobil listrik, salah satu perangkat yang dianggap sangat vital adalah baterai. Selama ini, Indonesia masih mengandalkan baterai dari pihak asing untuk beberapa mobil listrik yang telah dibuat, seperti dari Jepang.

Namun, sejak 2012 Kemenristek telah membentuk Konsorsium nasional riset baterai lithium yang dipusatkan di Serpong. Konsorsium ini secara teratur akan melakukan penelitian pembuatan baterai lithium yang lebih efisien. Konsorsium baterai lithium yang diinisiasi oleh Kemenristek melibatkan unsur Academia, Business dan Government (ABG) yang terdiri dari perguruan tinggi (UI, UNLAM, ITS, dst), pihak industri dan peneliti litbang, seperti LIPI, BPPT, BATAN.