Teknopreneur.com – Sekitar 52,6% saham Telkom dipegang oleh pemerintah, artinya pemerintah juga memiliki kontrol serta pengaruh yang cukup signifikan dalam perusahaan telekomunikasi tersebut. Dikarenakan Telkom merupakan perusahaan telekomunikasi yang strategis khususnya untuk wilayah nasional, yang notabennya sebagai perusahaan operator nirkabel dan juga penyedia jaringan broadband.

Fitch Ratings meramalkan saham Telkom baik yang berada di luar negeri maupun lokal cenderung stabil. Fitch Ratings merupakan lembaga pemeringkatan global yang memberikan data penilaian pendapatan suatu perusahaan secara obyektif.

Meskipun anggaran belanja tahun 2014 naik, itu hanya akan cukup untuk membiayai belanja modal. Dikarenakan belanja modal juga naik, untuk memperluas cakupan 3G dan menambah lebih dari 1.600 base transceiver station (BTS) tiap bulannya.

Seperti yang dikutip dari laman cellular-news.com,Fitch memperkirakan pada 2014-2015, deviden telkom akan meningkat sebesar 65% dari laba bersih tahun lalu. Dengan sebuah neraca yang sehat tersebut serta ditambah peluang investasi lainnya bisa mendorong deviden yang lebih besar.

Fitch memprediksi, marjin EBITDAR (Laba sebelum Bunga, Pajak, Penyusutan, Amortisasi dan Sewa) Telkom bisa saja mengalami penurunan setiap tahun karena persaingan yang lebih besar dan campuran pendapatan berubah. Tarif data jatuh, yang akhirnya perusahaan merugi dan tidak mendapatkan pangsa pasar yang berarti sehingga akan mempengaruhi profitabilitas.

Untuk itu, Telkom berencana untuk menguangkan aset menara melalui penawaran saham publik atau menjual ke mitra strategis. Anak perusahaan Telkom PT Dayamitra Telekomunikasi sedang dalam proses konsolidasi. Fitch percaya bahwa industri telekomunikasi Indonesia akan mengkonsolidasikan diri selama 12 sampai 24 bulan ke depan.