Teknopreneur.com- Melihat sampah plastik berserakan di Jakarta. Tentu bukan hal yang aneh. Padahal untuk dapat mengurah si sampah plastik ini secara alami membutuhkan waktu ratusan tahun. Bagus Pramudito dan Agi Gunawan memiliki cara lain untuk mengelola sampah plastik ini melalui waste petrolisis hasil karya mereka.

Waste Petrolisis mampu mengolah sampah plastik dalam waktu singkat dan menghasilkan produk sampingan berupa bahan bakar minyak dan gas, yang mereka beri nama plastoil dan gastik. Bahan bakar minyak yang dihasilkan bisa langsung digunakan untuk memasak, penerangan dan keperluan pembakaran lainnya.

Berawal dari tugas kuliah rekayasa sanitasi di jurusan kesehatan lingkungan Poltekkes Kemenkes Jakarta II. Sang dosen menyuruhnya membuat konsep teknologi yang berkaitan dengan upaya sanitasi. Ide itu muncul, terinspirasi dari metode penanganan sampah di Jepang yang sistematis, dipadukan dengan teknologi. Teknologi itu mampu membuat alat pengolah sampah plastik menjadi minyak.

“Jika Jepang saja bisa, Indonesia juga pasti bisa,” begitu pikir Bagus.

Tak berhenti sampai ide, Bagus memutuskan untuk mengambil judul skripsi tentang teknologi tersebut untuk diteliti lebih lanjut. Sebagai langkah awal untuk membuktikan keseriusannya. Ia mengikutkan waste petrolisis dalam lomba nasional teknologi tepat guna yang diadakan oleh Wahana Visi Indonesia. Hasilnya ternyata mereka meraih gelar juara 1 kategori pengelolaan limbah pilar 4 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Soal kendala selama proses pembuatan, Bagus mengaku ketika pertama kali membuatnya ada beberapa kendala seperti minyak tidak keluar, juga soal tekanan yang tidak terbaca.

Bagus mengatakan alat ini bisa dibuat dalam skala sederhana dengan menggunakan barang-barang  bekas seperti kaleng kerupuk dan pipa tak terpakai. Dana yg dibutuhkan hanya sekitar 250-350 ribu. Tetapi untuk skala lebih besar dengan memperhatikan hasil dan faktor  keamanan membutuhkan dana sekitar  5 sampai 6 juta. Bagus melanjutkan ia masih terus mengembangkan alat ini. Setidaknya, sekarang sampah plastik tak lagi menjadi barang tak berguna bukan?