Teknopreneur.com – Jakarta, banjir dan sampah, memang menjadi daya tarik sendiri. Ketika menyinggung masalah kebersihan Ibukota, tidak jauh-jauh dari dua problem tersebut.

Pertanyaan yang muncul, apakah dibutuhkan solusi teknologi atau datangnya dari sosial untuk mengatasi problem yang tak kunjung usai tersebut? Isnawa Aji menyebutkan ternyata sampah banyak datang dari pemukiman penduduk. Data dari DKI menunjukkan Diperkirakan 60,49% penduduk membuang sampah selebihnya dari pasar, industri dan lain-lain.

“Kami mengakui dari sekian banyak sampah tersebut, kami sudah menanganinya kira-kira 88%”, jelas Isnawa Aji pada forum diskusi “Inovasi dan Sinergi untuk pengelolaan sampah DKI Jakarta” di Universitas Bina Nusantara Senin (21/7).

Dari presentase tersebut, Dinas Kebersihan 2013 sudah membuat 256 titik bank sampah dan 3R sejumlah 156 titik. Namun, ditilik kembali pola kebiasaan penduduk Jakarta tiap harinya individu membuang sampah seberat 0,7-0,9 kg.

“Jumlah yang sungguh fantastis juga ditambah dengan kapasitas TPS Bantar Gebang yang menampung hampir 8000 ton per hari”, tambah Isnawa Aji.

Dinas kebersihan DKI Jakarta di satu sisi sedang mengkaji solusi teknologi Incinerator, sebuah teknologi penghancuran limbah organik melalui pembakaran. Di samping itu, penduduk Jakarta mempunyai cara tersendiri untuk pengelolaan sampah.

Misalnya saja dari Greenvation Indonesia, mereka membuat wadah serbaguna pengganti plastik. Adapula yang mengubah sampah bukan hanya dalam bentuk kompos tetapi menjadi pupuk organik setaraf NPK dan urea cair serta urea padat.

Sayangnya, usaha-usaha tersebut masih berjalan satu-satu. Oleh karena itu, Kemal Taruc selaku pakar Teknologi Lingkungan dari Pokja AMPL berpendapat,”jangan-jangan yang kita butuhkan bukan hanya dari sisi teknologi saja tetapi dari sisi sosial pun sangat berperan”.

Kemal Taruc pun menambahkan inilah yang dibutuhkan Sociotechnicalsystem untuk mengatasi permasalahan tidak hanya sampah tapi aspek-aspek penyehatan lingkungan lainnya. Karena sosial menurut Kemal Taruc memberikan value change terhadap teknologi juga sebaliknya.

“Teknologi sudah terbuat tetapi sumber daya manusianya malas-malasan, tidak akan berhasil, tetapi manusianya siap tetapi teknologinya tidak ada juga tidak bernilai” pungkasnya.

Ia juga menuturkan porsi yang diberikan untuk sosial dan teknologi harus berjalan beriringan dan saling mendukung.