Teknopreneur.com – Ketika manusia berburu untuk menciptakan energi modern dan terbarukan, masih banyak orang-orang yang belum menikmati energi tersebut.

Di dunia, 1,3 miliar orang masih kesusahan untuk mengakses kebutuhan listrik. Di sisi lain, 2,6 miliar orang masih tergantung dengan pengelolaan biomassa yang sangat konvesional untuk memasak dan sebagai penghangat.

Pada Renewable 2014 Global Status Report, yang dipublikasikan oleh Renewable Energy Policy Network for 21st Century menyebutkan, dari konsumsi energi global tahun 2012 pada angka 19%, biomassa menduduki peringkat teratas dengan nilai konsumsi sebesar 10%.

Hal ini dibuktikan dengan 63 negara sudah membuat peraturan tentang bahan bakar nabati diantaranya Amerika Serikat, Brasil, Tiongkok, Kanada dan Prancis menjadi lima negara pemroduksi terbesar sedunia.

Selain itu juga sepuluh persen konsumsi biomassa tersebut berdasarkan pada produksi etanol di akhir tahun 2012 sekitar 82,6 miliar liter dan semakin meningkat pada penghujung 2013 pada 87,2 miliar liter. Sebaliknya bahan bakar nabati masih relatif sedikit diproduksi 23,6 miliar liter dan bertambah 2,7 miliar liter di tahun berikutnya.

Biomassa banyak digunakan orang-orang untuk pemanas, pembangkit dan transportasi. Total konsumsi energi primer pada biomassa di tahun 2013 berada 57 exajoule (EJ) atau hampir 60% merupakan biomassa konvensional dan sisanya bioenergi modern (padat, gas, dan cair).

Masyarakat konsumsi energi ternyata lebih menyukai menggunakan biomassa untuk dijadikan penghangat dengan kapasitas yang selalu meningkat 1% pada kisaran 296 gigawatt-thermal (GWth).

Kapasitas tenaga nabati global melebihi 400 Terawatt perjam (TWh) di tahun 2013 yang di dalamnya termasuk campuran dari penanaman panas dan tenaga (CHP). Sementara itu, wood pellet atau kayu pellet menjadi bahan nabati yang sedang membumi di perdagangan internasional.