Teknopreneur.com – Sudah saatnya masyarakat Indonesia tidak lagi tergantung pada bahan bakar fosil. Di lain sisi, pemerintah pun mengeluhkan kesulitan untuk membayar subsidi bahan bakar tersebut karena melihat harganya kian melonjak dari tahun ke tahun.

Memperhatikan kondisi ini, berbagai sumber energi alternatif yang bisa diperbaharui terus dikembangkan. Salah satunya, bahan bakar nabati yang bisa dipetik dari tanaman perkebunan aren, bunga matahari, jarak pagar, kelapa, kemiri sunan, kesambi, nyamplung, sagu, simalakian, dan wijen.

Pada hari ini Kamis (17/7) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meresmikan Uji Jalan Pemanfaatan Biodisel (B20) pada Kendaraan Bermotor oleh Jero Wacik, Menteri ESDM. Peresmian itu merujuk pada tahun 2016 pemakai kendaraan bermotor untuk menggunakan biodiesel sebesar 20% seperti yang tercantum pada Permen ESDM nomor 25 tahun 2013.

“Potensi bahan baku biodiesel di Indonesia sangatlah besar, misalnya produksi CPO mencapai sekitar 30 juta ton per tahun ditambah pula jumlah ekspor 20 juta ton per tahun, 1 juta ton terebut sebaiknya bisa diolah menjadi 20 ribu barel biodiesel per hari”, kata Jero Wacik.

“Uji Jalan pada pemanfaatan biodiesel ini ditempuh pada jarak sejauh 40.000 km. Rute yang akan dilewati mulai dari BPPT Serpong sebagai basecamp I, tol jagorawi, Puncak, Cianjur, Padalarang, Cileunyi, Bandung, Lembang sebagai basecamp II, Subang, Cikampek, Palimanan, Karawang, Cibitung dan kembali menuju Serpong diperkirakan menempuh perjalanan kurang lebih 500 km per hari” tambahnya.

Kegiatan tersebut melibatkan banyak pihak seperti Wakil Menteri ESDM, para pejabat eselon satu dari beberapa Kementerian/Lembaga, Wakil dari Pemerintah daerah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, Lembaga Penelitian dan Pengembangan, para ahli bahan bakar dan bioenergi Indonesia, distributor bahan bakar, produsen bahan bakar nabati, perusahaan kendaraan bermotor dan alat besar, pengusaha kelapa sawit Indonesia serta seluruh asosiasi terkait,

Ditjen EBTKE-Kementerian ESDM pun merangkul stakeholder terkait, BPPT, Pertamina, Aprobi, Gaikindo, Hino, Aspindo, dan Hinabi untuk melakukan kegiatan Kajian Teknis Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati pada Kendaraan Bermotor dan Alat Besar.

Tiap-tiap pihak diberikan tanggung jawab. Pada Dirjen EBTKE, sebagai pihak yang melakukan perencanaan, pendanaan, dan pengawasan kegiatan, serta menyediakan satu kendaraan storing yang juga menggunakan B20.

BPPT menyediakan fasilitas pencampuran dan pengisian bahan bakar, pengujian mutu bahan bakar, dan pengujian kinerja mesin kendaraan bermotor. PPPTMGB atau Lemigas melakukan pengujian pelumas dan membantu pengujian mutu bahan bakar yang tidak dapat dilakukan BPPT. Sedangkan PT Pertamina menyediakan minyak solar (B0) sesuai dengan kebutuhan selama pengujian beserta fasilitas pendukungnya.

Aprobi menyediakan biodiesel (B100) sesuai kebutuhan selama pengujian. Gaikindo meminjamkan enam unit kendaraan bermotor dengan merk Toyota jenis Innova dua unit, Mitsubishi jenis Pajero dua unit, dan Chevrolet jenis Spin dua unit. Dan terakhir, Hinabi bersama Aspindo dan Hino melakukan pengujian pemanfaatan pada kendaraan bermotor dan alat besar.