Teknopreneur.com – Menurut Herman Darnel Ibrahim, Pakar Bidang Energi dan Listrik, porsi energi terbarukan dalam energi primer diproyeksikan meningkat dari 16% pada 2010 menjadi 25% pada 2030 dan 30% pada 2050. Bauran energi fosil menurun dari 84% pada 2010 menjadi 75% pada 2030 dan 70% pada 2050.

Sebaliknya, emisi CO2 pada 2030 akan melebihi 1000 juta ton dan pada 2050 akan mencapai 2000 juta ton pertahun. Angka yang sangat fantastis jika selama ini limbah seperti emisi gas buang ini hanya dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan jika memperhatikan lebih banyak dampak negatif yang ditimbulkannya daripada segi positifnya.

Dari sinilah, Jawa Timur pun berencana untuk memanfaatkan limbah berupa gas panas buang untuk pembangkit listrik. Sejumlah gas panas buang bisa dihasilkan dari boiler, kiln, oven dan tungku. Sedangkan Jawa Timur melalui PT Semen Indonesia Tbk akan melakukan pembangunan pembangkit tenaga listrik di Tuban dengan memanfaatkan panas sisa hasil industri.

Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetcipto seperti dilansir energi today Selasa (15/7) mengatakan,”proyek pembangkit yang sangat ramah lingkungan ini merangkul perusahaan Jepang, JFE Engineering, yang diharapkan mereka akan memberikan investasi sekitar 20% untuk pengendalian emisi gas CO2”.

Dwi Seotjipto pun memaparkan bahwa proyek ini akan turut andil dalam usaha mengurangi emisi gas CO2 sebesar 122.358 ton tiap tahunnya. Selain itu juga, pembangkit listrik tersebut akan memberikan keuntungan bagi Pemerintah terutama PLN sebesar RP120 miliar per tahun dan akan mengurangi penggunaan listrik sebesar 152 juta kWh.

Proyek tersebut diperkirakan menghabiskan dana Rp638 miliar dan akan memakan waktu pembangunan selama 24 bulan. Ke depannya pembangkit listrik tenaga limbah ini akan mulai beroperasi pada akhir semester II di tahun 2016 dengan kapasitas 30,6 MW.