Teknopreneur.com – Ikan tuna menjadi salah satu komoditas unggulan yang dihasilkan dari perairan Indonesia. Selain dikonsumsi di berbagai daerah, ikan jenis ini juga banyak di ekspor ke luar negeri. Beberapa negara di Asia dan Eropa menjadi salah langganan tetap yang mengimpor ikan tuna dari Indonesia. Jepang misalnya, menjadi salah satu negara tujuan untuk ekspor ikan tuna. Bisnis ini kian menguntungkan karena harga jual ikan tuna yang lumayan mahal, berkisar 5-7 US dolar per kilogramnya.

Banyaknya penjualan ikan tuna menyebabkan pasokan ikan jenis ini makin sedikit di alam. Balai Besar Litbang Budidaya Laut pernah menyatakan bahwa hasil tangkapan ikan tuna di laut kian minim. Populasi ikan tuna di alam dikatakan telah mengalami banyak penurunan sejak 2012.

Untuk itu, BBLBL menggagas cara budidaya ikan tuna secara inovatif. Budidaya ini dilakukan di keramba agar perkembangan ikan tuna dapat di awasi setiap saat. Keramba yang disiapkan terbuat dari jaring berbahan polimer ramah lingkungan. Jaring tersebut berdiameter mencapai 48,8 meter dengan kedalaman mencapai 9 meter untuk pengembangan induk dan kedalaman mencapai 12 meter untuk penggemukan ikan.

Jaring tersebut lalu diberikan benih ikan tuna dan dilepaskan dekat pantai. Dengan begitu, nelayan yang membudidayakan ikan tuna ini dapat mengontrol pertumbuhan ikannya. Budidaya ini dinilai inovatif karena biasanya digunakan bak beton yang biayanya cukup mahal. Selain itu, penghematan juga dapat dilakukan karena tuna tak hanya mendapat pakan dari nelayan, namun juga ikan-ikan kecil yang ada di laut.