Teknopreneur.com – Kata hijau semakin populer akhir-akhir ini. Dari energi hijau, teknologi hijau hingga kimia pun sekarang menggunakan sisipan hijau di belakangnya. Apa yang dimaksud hijau?

Hijau mengacu tidak hanya pada bersih atau ramah lingkungan tetapi sumber daya tersebut bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga efisien dalam penggunaan. Indonesia yang sudah mewabah energi hijau juga mulai merambah pada produk kimia. Seperti apakah produk kimia hijau?

Produk kimia hijau merupakan terobosan baru yang berupaya untuk menjawab tantangan lingkungan yang diakibatkan oleh para pelaku industri kimia. Para pelaku industri kimia ini menggunakan prinsip berpikir hijau dalam hal ini.

Industri kimia hijau lebih menitik beratkan pada bahan bakar nabati termasuk bioetanol, biodiesel dan biogas sebagai sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan. Di tambah desain pabrik yang mementingkan pada penghematan energi menjadi fokus utama industri kimia hijau tersebut.

Terutama, jalur proses manufaktur pun menggunakan pelarut yang aman dan tidak merusak lingkungan, juga menggunakan sampah organik dan bahan baku dari materi buangan pun bisa diolah. Mereka-mereka ini juga tidak akan melepaskan gas buang karbondioksida yang dihasilkan sehingga memicu efek rumah kaca.

Indonesia sendiri sudah mengiplementasi model kimia hijau tersebut dengan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan) sebagai parameter perusahaan menerapkan industri ramah lingkungan. Model seperti ini pun mulai diadaptasi oleh negara-negara tetangga semisal Tiongkok, Ghana, India dan Filipina.

PROPER ini bermanfaat banyak sekali. Di samping untuk indikator ramah lingkungan, juga sebagai penilaian kinerja industri untuk meningkatkan kualitas dan standar dalam penilaian investor.

Untuk menilai baik tidaknya suatu perusahaan akan diberi peringkat warna. Perusahaan dengan kinerja terburuk akan diberikan warna hitam kemudian merah dan biru. Sementara perusahaan meraih peringkat terbaik akan diberi warna hijau dan emas.

Namun sayangnya, 1317 perusahaan yang terdaftar, mayoritas perusahaan besar yang turut serta. Perusahaan menengah ke bawah belum banyak mengetahui sosialiasi mengenai program ini.

Bisa dilihat pada periode penilaian tahun 2012-2013 terdapat 12 perusahaan besar yang mendapat peringkat emas seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa pabrik Palimanan, Chevron Geothermal Salak Ltd, PT Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang, Chevron Geothermal Indonesia Ltd unit Panas Bumi Drajat, PT Jawa Power, PT Holchim Indonesia, TBK Cilacap Plant, PT Unilever Indonesia Tbk pabrik Rungkut, PT Semen Indonesia (Persero), TBK pabrik Tuban, PT Pertamina (Persero) S&D Regional II terminal BBM Rewulu, PT Bukit Asam (Persero) Tbk unit pertambangan Tanjung Enim, PT Badak NGL, dan PT Medco E&P Indonesia Rimau Asset.