Teknopreneur.com – Pemanfaatan limbah untuk kebutuhan rumah tangga dan industri sebagai energi alternatif bukan lagi hal baru di Indonesia. Potensi limbah ini begitu besar karena memberikan nilai guna terutama perbaikan efisiensi energi di tengah melonjaknya harga bahan bakar fosil. Jika tidak diolah, limbah selamanya akan menjadi sampah bau yang tidak terpakai.

Melihat potensi itulah, Kementerian Keuangan tahun 2014 menganggarkan dana kredit untuk para pengusaha energi bersih. Dikutip pada situs Kemenkeu, kemenkeu mengalokasikan dananya pada Kredit Program berupa Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E).

Kendati demikian, anggaran ini dibatasi oleh skema pembiayaan investasi melalui KKP-E khususnya terkait dengan besaran kredit yang diberikan. Pada kelompok dan individu diberikan alokasi dana yang berbeda. Kelompok diberikan maksimum Rp500 juta. Di sisi lain individu mendapat dana maksimum Rp100 juta.

Tidak luput juga dalam hal pemberian waktu maksimum 5 tahun untuk tenor. Kemenkeu juga melansir bahwa jenis pengembangan WtE (bioenergi) seperti pengembangan reaktor biogas dari limbah industri tahu dan pengembangan reaktor biogas dari limbah peternakan sapi yang berpeluang mendapatkan kredit program.

Kredit ini memang juga dibuat untuk meringankan pengusaha EBT karena Kemenkeu membuat syarat-syarat tertentu berupa beberapa jenis WtE yang layak secara keuangan bisa mendapat kredit tanpa bunga. Semisal, pengembangan reaktor biogas dari limbah industri tahu tersebut harus dibarengi dengan pengembangan produk ramah lingkungan.