Teknopreneur.com – Di tengah bahan bakar fosil yang kian menipis, solusi jitu untuk mengatasi problem tersebut bisa dilakukan dengan pengembangan biomassa non-pati untuk produk pangan fungsional, bioetanol, biofuel, hingga pengembangan biogas.

Namun, melihat kondisi Indonesia, pengembangan biomassa non-pati terbentur kendala dalam proses pengelolaan yang masih tidak ekonomis.

Mantan Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bambang Prasetyo menerangkan,” Poin penting untuk pengembangan biorefinery pada yang berbasis biomassa nonpati untuk kondisi Indonesia saat ini perlu dengan pendekatan yang cerdas, artinya biorefinery yang bernilai tinggi dan zero waste”.

Pernyataan tersebut diiyakan oleh Witjaksono, Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi LIPI, “tiga hal yang diperhatikan dalam pengembangan teknologi proses dari biomasa menjadi biofuel agar lebih efisien perlu adanya pengembangan teknologi pretreatment biomassa, pengembangan produksi enzim yang efisien dan pengembangan proses fermentasi yang lebih cepat”.

“Ketiga poin tersebut  akan dapat mengurangi biaya produksi sekaligus efisien”paparnya.

Oleh karena itu, LIPI saat ini sedang mengembangkan Culture Collection (InaCC) sebagai pusat koleksi mikroba se-Indonesia. Yopi Sunarya menjelaskan alasan,”dengan adanya InaCC diharapkan bisa membantu produksi enzim kualitas tinggi, rekayasa genetika mikroba ini pun bisa menghasilkan rekombinan untuk mendukung proses fermentasi secara efisien”.