Teknopreneur.com – Dr. Ines Irene Atmosukarto, mantan peneliti LIPI yang telah melakukan riset flu burung selama tiga tahun, akhirnya memutuskan hijrah ke Canberra, Australia pada tahun 2007. Di Lipotek Pty Ltd, perusa- haan tempatnya kini bekerja, Dr Ines dapat lebih mengembangkan riset vaksin flu burungnya dan didanai oleh Yayasan Bill Gates dan diberikan jabatan terhormat sebagai CEO di tempatnya bekerja. Pilihan ini, ia ambil lantaran lemahnya dukungan teknis maupun non teknis di Negerinya sendiri membuatnya ‘letih’. Padahal risetnya begitu penting bukan hanya bagi Indonesia, namun juga dunia. 

Dr. Ines boleh dibilang menjadi salah satu ‘korban’ belum terbentuknya ekosistem inovasi di Indonesia yang terkendala dalam penyediaan sarana penelitian dan bersumber kepada anggaran dana riset. Berangkat dari kasus tersebut (salah satu diantara banyak kasus ‘hijrah’nya peneliti), kita dihadapkan pada pilihan sulit, dan ini harus diselesaikan dengan komitmen yang komprehensif dan sistematis. Sebenarnya, kualitas SDM di Indonesia tidak kalah baik dengan negara lainnya, hanya saja kuantitasnya ternyata belum sebanding dengan kebutuhan riset dalam negeri dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat di Indonesia.

Ketersediaan SDM berkualitas tinggi ini tentu menjadi vital, dengan mempertimbangkan bahwa pekerjaan-pekerjaan berbasis ilmu pengetahuan memerlukan sistem informasi, pemahaman konsep -konsep abstrak, serta kemampuan berfikir, menganalisis dan memecahkan masalah kompleks. Yang menurut Prof. Zuhal, kesemuanya menuntut kapasitas modal manusia ( Human Capital ) yang memadai. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pernah mengkaji bahwa Indonesia membutuhkan 175 ribu sarjana teknik dan sains setiap tahunnya. Sementara, produktifitas perguruan tinggi di Indonesia saat ini hanya mampu menghasilkan 42 ribu sarjana teknik dan sains per tahun.

Defisit yang besar tersebut tentu akan melemahkan kapasitas nasional dalam bidang inovasi iptek di samping ekosistem yang tengah terbentuk di tengah geliat emerging economy. “Hal ini, kemudian yang menjadi tantangan di Indonesia. Selain menyiapkan aturan agar ekosistem inovasi di Indonesia bisa berkembang, dana riset penelitian yang diperbesar, publikasi dan paten diperbanyak, tentu sebelum itu kita harus menyiapkan SDMnya dahulu.

Dan Kemenristek tidak bisa sendirian soal itu, ada peran Kemendiknas, Kemenkeu, Pemerintah Daerah, dan inisiatif industri untuk mau menyerap inovasi. Masyarakat pun harus merasa butuh dengan budaya Inovasi. Kita ini pada dasarnya hebat dan bisa kok,” ujar Wawan Bayu Asisten Deputi Produktifitas Riptek Masyarakat, Kemenristek RI yang diwawancari oleh Teknopreneur.