Teknopreneur.com – Penanganan  penyakit ginjal di Indonesia masih membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk sekali cuci darah saja, pasien harus mengeluarkan dana Rp 400 ribu. Cuci darah itu juga harus rutin dikerjakan setiap minggu. Mayoritas pasien yang mengalami gangguan ginjal baru mengetahui setelah ginjal penderita tak lagi berfungsi secara normal.

Selam ini, pemeriksaan ginjal dinilai belum terlalu akurat untuk mengetahui gejala penurunan ginjal. Akibatnya, banyak pasien yang harus menanggung biaya pengobatan yang besar. Padahal, seharusnya pasien tak harus mengeluarkan biaya pengobatan yang cukup besar apabila melakukan pencegahan sejak dini.

Prihatin dengan kondisi ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) melalui penelitinya, Joko Sumanto, menciptakan alat pendeteksi ginjal yang dinamai Renograf  IR3. Alat ini sudah mendapatkan validasi dari Badan nuklir dunia, Internasional Atomic Energi Agency (IAEA). Alat ini dipercaya akuran utuk mendeteksi penurunan fungsi ginjal pada manusia. Dengan adanya lat ini, manusia dapat mengantisipasi penyakit gagal ginjal sejak dini.

Teknologi remograf IR3 ini berbasis USB yang terkoneksi pada windows XP dan windows 7. Prinsip pengoperasiannya pun sederhana, yakni memonitor dari luar tubuh kondisi ginjal pasien. Alat ini juga menggunakan bahan –bahan lokal. Tenaga listrik yang dibutuhkan juga tidak terlalu tinggi sehingga lebih efisien. Selain itu, proses pemeriksaan pun cepat dan langsung dapat diketahui secara langsung dan akurat.

Dengan berbagai kelebihan ini, Renograf telah banyak digunakan oleh berbagai rumah sakit di Indonesia sejak 2009 lalu. Saat ini, pasien yang ingin memeriksakan kondisi ginjalnya akan dikenai biaya Rp 300-400 ribu untuk tiap kali pemeriksaan. Pemeriksaan ini tentu akan lebih efisien dari pada harus mengobati penyakit yang membutuhkan dana lebih besar.