Teknopreneur.com – Gema revolusi industri tidak hanya memberi dampak yang sangat besar pada tatanan perekonomian saja tetapi mereka para pelaku industri seringkali melalaikan kewajibannya demi mengeruk sebanyak profit yang didapatkan. Mereka barangkali melupakan korelasi antara perkembangan industri dengan kerusakan lingkungan berbanding lurus.

Industri-industri yang mengabaikan lingkungan ini memberikan kerugian yang amat besar terhadap peralihan fungsi bumi. Salah satunya, asap yang mengepul yang berasal dari cerobong pabrik, gas buang dari kendaraan bermotor dan rumah tangga serta produksi listrik menimbulkan gas emisi seperti CO2.

CO2 memang dibutuhkan oleh pepohonan. Tetapi eksploitasi besar-besaran ekosistem tumbuhan tanpa kendali mengakibatkan pastinya kerusakan pada ekosistem di samping itu juga CO2 banyak yang tidak terserap dengan baik sehingga gas emisi ini terperangkap di atmosfer yang kemudian menimbulkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca inilah sebagai penyebab utama pemanasan global di bumi.

Pada buku “Energi Selamatkan Negeri” karya Herman Darnel Ibrahim, pakar bidang Energi dan Listrik sekaligus pernah menjabat direktur PLN, dipaparkan bahwa porsi energi terbarukan dalam energi primer diproyeksikan meningkat dari 16% pada 2010 menjadi 25% pada 2030 dan 30% pada 2050.

Sebaliknya, bauran energi fosil menurun dari 84% pada 2010 menjadi 75% pada 2030 dan 70% pada 2050. Sehingga emisi CO2 pada 2030 akan melebihi 1000 juta ton dan 2050 akan mencapai 2000 juta ton per tahun.

Selain itu juga dijelaskan bahwa dengan pertumbuhan konsumsi energi primer yang masih relatif besar dan pertumbuhan penduduk yang semakin kecil menghasilkan emisi CO2 akan mengalami kenaikan menjadi 3,9 ton per kapita pada 2030 dan menjadi 6,6 ton per kapita pada 2050. Angka ini masih jauh lebih rendah dibanding emisi per kapita rata-rata negara maju sekarang yang sudah mencapai 11 ton per kapita.