Teknopreneur.com – Kebutuhan masyarakat pedesaan akan transportasi untuk kegiatan sehari-hari, seperti mengantar hasil panen ke pasar, berdagang, dan kendaraan operasional sekolah menjadi perhatian pemerintah saat ini. Untuk itu, pengembangan teknologi kendaraan multiguna menjadi solusi yang diberikan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), demi menjawab kebutuhan masyarakat yang beragam.

Dalam kunjungan kerja yang dilakukan Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta 1 Juli lalu di Institut Teknologi Surabaya (ITS), didampingi oleh Deputi Relevansi dan Produktivitas Iptek dan Asisten Deputi Produktivitas Riptek Industri memberikan arahan pentingnya kemandirian teknologi sekaligus memberikan apresiasi kepada tim konsorsium riset yang ada di Jawa Timur karena telah menghasilkan terobosan-terobosan yang cukup membanggakan dari sisi kemampuan dan kemandirian teknologi. 

Gusti Mengatakan,“Pengembangan kendaraannya dilakukan secara simultan dengan mengembangkan mesin berkapasitas 650cc yang kini sedang dalam proses penyempurnaan desain dan uji coba. Kendaraan pedesaan ini nantinya mempunyai 4 purwarupa (4 macam bentuk) yang terdiri dari kendaraan angkutan barang, kendaraan untuk produksi, kendaraan toko dan kendaraan jenis penumpang.”

Setelah dikembangkan diperoleh prototipe engine 650cc dengan sistem injeksi, serta daya maksimum 20kW dan beberapa komponen penting telah dilokalkan dengan status sedang dalam integrasi dan pengujian. Inovasi yang telah dilakukan berupa perubahan geometry combustion chamber, sehingga ruang bakar lebih besar, pengembangan direct injection system melalui port serta pengembangan system control ECU. 

Diharapkan dengan menggali potensi dan kemampuan nasional untuk fokus dalam bidang pengembangan komponen – komponen otomotif. Dengan meningkatnya kemampuan komponen lokal untuk otomotif maka semakin mudah mengintegrasikan secara sistem menjadi sebuah kendaraan.

Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Selain itu, proses peningkatan technology readiness level (TRL) harus dilakukan untuk mematangkan teknologi tersebut. Jika hal tersebut dilakukan dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan maka tidak menutup kemungkinan dapat dihasilkan kendaraan buatan lokal.