Teknopreneur.com – Berbeda dengan pilpres di tahun sebelumnya tahun ini dunia maya bak dibanjiri oleh kampanye pemilihan presiden. Kampanye di dunia nyata seperti kalah telak. Aplikasi demokrasi seakan pindah dari dunia nyata ke dunia maya sejalan dengan berkembangnya teknologi di Indonesia.

Manfaatnya demokrasi semakin terbuka, semua orang bisa memberikan masukan dan pastinya lebih transfaran. Menurut Ketua Dewan TIK Nasional, Ilham Habibie, meski kebebasan berpendapat semakin terbuka namun demokrasi Indonesia masih berada di titik 2.0. maksudnya disini yang lebih banyak memberikan pelayanan ke pemerintah, ke masyarakat dan para pebisnis adalah pemerintah.

“Mengapa bisa terjadi? Karena tak semua masyarakat melek IT, tak semua orang bisa menggunakan teknologi dan kebanyakan warga Indonesia menggunakan IT hanya untuk hiburan. Dan tak semua infrastruktur memadai dan merata.  Alhasil terjadi kesenjangan yang lebar, antara yang gagap teknologi dengan yang melek teknologi Ketua Habibie Center ini.

Maka langkah pertama yang dilakukan adalah memberikan pemahaman, memberikan pengarahan kepada masyarakat yang gagap teknologi sehingga hampir seluruh rakyat Indonesia bisa melek teknologi. Jadi rakyat bisa lebih produktif dan memberikan masukan. Masukannya yang diberikan pun bukan dari kalangan atas namun juga kalangan bawah yang terkadang tidak terjamah oleh pemerintah.

Dengan begitu kita bisa menuju ke demokrasi 3,0. Jadi tak lagi pemerintah yang lebih berperan. Namun rakyatlah yang lebih berperan ke pada pemerintah maupun ke kalangan pebisnis. Sehingga kita bisa menjadi good governance yang selama ini Indonesia impikan.