Teknopreneur.com – Kebutuhan ponsel dalam negeri sebagian besar masih dipenuhi dari impor. Digambarkan, total impor ponsel pada 2013 mencapai 63 juta unit dan pada Januari-Juni tahun ini telah mencapai 26,3 juta unit.Angka impor tersebut merupakan angka fantastis jika dihitung berapa anggaran dana yang diperlukan untuk impor produk dari luar. 

Industri telepon seluler (ponsel) lokal diyakini dapat menekan impor produk tersebut hingga US$ 2 miliar tiap tahunnya. Ponsel lokal diprediksi bisa menguasai 80% pasar dalam negeri dalam lima tahun ke depan.

“Kalau kita bisa memenuhi lebih dari 50% kebutuhan dalam negeri dengan ponsel lokal, kita bisa menyimpan dana sekitar US$ 2 miliar dari impor sekaligus membuka value chain di sini,”kata Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi pada acara peluncuran produksi smartphone 4G pertama buatan Indonesia di Batam.

Meski demikian, Budi meyakini, “Produksi ponsel lokal bakal meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Terlebih, banyak agen pemegang merek yang diwajibkan memproduksi sendiri ponsel di dalam negeri setelah diberi waktu tiga tahun memasarkan produknya di Tanah Air.”

“Tahun depan, pemegang merek harus membuat ponselnya di sini. Jadi tahun 2015, akan banyak permintaan pembuatan ponsel lokal,” ungkap Budi. Budi mengatakan, penjualan ponsel lokal diperkirakan mencapai 6 juta unit pada akhir tahun ini. Jumlah itu sekitar 10% dari total impor ponsel.

“Tahun depan, ponsel lokal diharapkan bisa mensubstitusi sekitar 20-25% dari total produk impor yang masuk. Porsinya akan meningkat pada tahun berikutnya menjadi 40%,” ucapnya. Dia meyakini, dalam lima tahun ke depan, ponsel lokal akan bisa menguasai 80% pasar dalam negeri.

Ponsel lokal sulit menguasai 100% pasar, karena konsumen membutuhkan banyak variasi produk. Budi menyatakan,“Pihaknya akan mendorong industri lokal yang ingin memproduksi ponsel tetapi terkendala masalah dana. Dapat dipastikan kualitas ponsel lokal tidak akan jauh berbeda dengan ponsel impor.