Teknopreneur.com – Kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar merupakan lautan membuat negeri ini dijuluki negeri maritim. Indonesia sangat kaya akan potensi lautnya, seperti ikan dan terumbu karang. Kondisi yang menguntungkan tersebut menyebabkan rawannya pencurian ikan dan kejahatan laut lainnya. Berbagai kapal melintas di perairan Indonesia bisa dengan mudah merampas kekayaan laut Indonesia jika tidak diawasi dengan alat pemantau.

Luasnya kawasan laut Indonesia belum dimbangi dengan kelengkapan radar pemantau yang memadai. Padahal, kawasan pantai Indonesia membutuhkan sedikitnya 600 radar. Selama ini, Indonesia lebih banyak memenuhi kebutuhan radar tersebut dengan cara mengimpor dari Negara lain. Padahal, Indonesia di bawah LIPI telah mampu membuat radar pemantau yang baik.

LIPI yang bekerjasama dengan Technische Universiteit Delft, Belanda membuat inovasi radar pemantau  yang diberi nama Isra Indonesian Sea Radar. Pada kondisi 100 meter diatas permukaan laut, radar ini mampu menjakau wilayah sejauh 33 kilometer. Daya jangkau terjauh dapat mencapai 64 kilometer pada kondisi 200 meter diatas permukaan laut.

Radar Isra menggunakan frekuensi yang terus-menerus untuk memantau daerah sekitar. Keunggulan lain radar pemantau ini adalah memungkinkan pengoperasiannya tidak terdeteksi radar scanner atau pendeteksi keberadaan radar. Hal ini sangat menguntungkan Pemerintah Indonesia, terutama saat mengusut kasus illegal yang biasanya bertransaksi di tengah laut.

Radar ini juga mempunyai kemampuan untuk mendeteksi benda-benda bergerak seperti kapal yang sedang berlayar. Listrik yang digunkan dalam radar ini juga rendah sehingga memungkinkan pemasangan radar di daerah pelosok adan pesisir Indonesia yang minim listrik.

Secara ekonomis, kehadiran radar ini menumbuhkan industry radar dalam negeri. Selain menghemat biaya impor radar, kemunculan Isra juga menjadi bukti kreativitas anak bangsa.