Teknopreneur.com – Masalah air bersih di Indonesia masih menjadi masalah serius yang harus segera ditangani. Apalagi bagi masyarakat Indonesia yang bermukim di sekitar bantaran sungai, seperti di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Banyaknya warga yang tinggal di dekat sungai atau rawa mengharuskan mereka untuk menggunakan air tersebut  untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci baju, mandi, bahkan minum.

Kebiasaan mengkonsumsi air rawa dalam jangka panjang ini menyebabkan gangguan kesehatan bagi warga. Masyarakat di Kabupaten Katigan, Kalimantan Tengah  misalnya, mayoritas warga disana sudah menggunakan gigi palsu akibat seringnya mengkonsumsi air yang mempunyai kadar keasaman yang tinggi. Selain itu, mereka juga mengalami gangguan metabolisme tubuh dan iritasi kulit.

Melihat keadaan  ini, Pusat Penelitian Limnologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggaggas inovasi instalasi pengolahan air gambut (IPAG) dengan peneliti utama Ignatius Dwi Tama Sutapa.

Menurut data LIPI, teknologi IPAG ini berfungsi mengolah air gambut menjadi air yang dapat dikonsumsi sesuai standar, yaitu tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, pengolahan air tersebut harus melewati tiga tahapan, yaitu menetralkan  keasaman air, menghilangkan warna dan senyawa lain, serta memisahkan partikulat. Teknologi yang diberi nama IPAG60 ini telah mampu menghasilkan air bersih sebanyak 60 liter per hari untuk memenuhi kebutuhan 100 kepala keluarga.

Air gambut yang umumnya memiliki pH 2,7-4 harus diubah menjadi air yang pH nya netral, yaitu 7. Untuk menjadi netral, air gambut harus diolah  melalui berbagai tahapan, yaitu koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dekolorisasi, netralisasi, dan disinfektasi. “Hasilnya memang air gambut itu sudah menjadi air tawar dan layak konsumsi karena tidak berbau, berasa, dan berwarna. Dan ini sesuai keinginan masyarakat,” ujar Sutapa dalam wawancara dengan LIPI.