Teknopreneur.com – Teknologi instalasi pengolahan air gambut yang diberi nama IPAG60 dilakukan melalui tujuh tahapan, yaitu koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dekolorisasi, netralisasi, dan disinfektasi. Setelah melewati tahapan tersebut, IPAG60 mampu  menghasilkan air bersih sebanyak 60 liter per hari untuk memenuhi kebutuhan 100 kepala keluarga.

Cara kerja IPAG60 pada mulanya harus menetralkan keasaman air. Air gambut mempunyai derajat keasaman berkisar 2,7-4. Untuk mengubahkan menjadi air dengan keasamanan 7, air gambut harus melewati proses pengendapan atau koagulasi terlebih dahulu. Senyawa yang diendapkan adalaha aluminium sulfat yang merupakan penyebab rasa masam. Endapan alumunium sulfat tersebut diendapkan dalam bak sedimentasi dan disaring lagi menggunakan pasir silika dan atrasit serta air. Dalam  proses tersebut, akan dihasilkan mikroorganisme yang mampu mengurai berbagai zat berbahaya dalam air.

Langkah selanjutnya adalah penghilangan bau, rasa, dan warna pada air melalui tahapan dekolorisasi. Pada tahap ini, dibutuhkan sebuah penyaring karbon aktif untuk menyerap berbagai zat pengotor berwarna yang terdapat pada air. Setelah dihasilkan iar yang tidak berwarna, proses dilanjutkan dengan netralisasi keasaman iar dengan abu soda. Selain itu ditambahkan juga larutan hipoklorit untuk membunuh berbagai kuman dan pantogen yang ada.

Dengan melalui tujuh tahapan tersebut, air gambut yang awalnya berwarna hitam, berbau, dan berasa asam menjadi bening, tak berwarna, dan tidak berbau. Inovasi IPAG60 yang dikembangkan oleh seorang peneliti LIPI, Ignatius Dwi Tama Sutapa telah teruji di laboratorium dan menunjukkan hasil yang baik.

Selain mampu menghasilkan air yang layak konsumsi, kelebihan IPAG60 ini adalah merupakan teknologi sederhana, tidak menggunakan listrik yang terlampau besar, dan cukup terjangkau. “Tidak menggunakan alat-alat canggih yang susah dioperasikan. Termasuk suku cadangnya juga mudah dicari,” ujar Sutupa dalam wawancara bersama LIPI.