Teknopreneur.com – Menparekraf adakan acara Plenary Studi dan Perencanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif sebagai kelanjutan dari rangkaian kegiatan FGD (Focus Group Discussion) yang dibuka oleh Mari Elka Pangestu di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona, kemarin.

Kemudian acara dilanjutkan dengan rapat koordinasi (rakor) dari masing-masing lintas subsektor. Hasil FGD tersebut mengidentifikasi perihal isu strategis yang menjadi potensi maupun tantangan yang perlu mendapat perhatian lebih dari para pemangku kepentingan dalam perkembangan ekraf mendatang.

Setiap subsektor ekonomi kreatif memiliki penekanan potensi dan permasalahan yang berbeda-beda. Namun, sebagian besar subsektor menekankan pentingnya pendidikan untuk dapat menciptakan SDM yang berkualitas dan archiving (pengarsipan) sumber daya budaya, penelitian dan pengembangan, serta inovasi harus dilihat sebagai aset bukan hanya sekedar faktor pendukung.

Selain itu, koordinasi dan sinergisitas antar pemerintah menjadi sangat penting karena pelaku ekonomi kreatif menyadari bahwa pengembangan ekonomi kreatif bersifat lintas sektor dalam pemerintahan. Di subsektor animasi,“pembiayaan tidak hanya terbatas pada penyediaan dana tetapi juga terkait dengan upaya-upaya penciptaan model bisnis yang membuat industri animasi dapat berkembang secara berkelanjutan,” ucap Ahmad Rofiq dari subsektor animasi.

Sedangkan untuk subsektor arsitektur, Bambang Eryudhawan menambahkan “arsitektur kita saat ini akan dihadapkan dengan tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, dimana akan terjadi persaingan antara arsitek lokal dengan arsitek dari negara ASEAN lainnya”. Dalam hal ini, arsitek Indonesia yang sudah tersertifikasi baru sekitar 3000 orang sedangkan dibutuhkan lebih dari 8000 arsitek untuk dapat melayani kebutuhan lokal.

Sementara di subsektor video dan fotografi, Yudhi dan Ilham menyatakan bahwa video dan fotografi merupakan sektor yang memiliki keterkaitan dengan berbagai subsektor baik di ekonomi kreatif maupun sektor ekonomi lainnya. “Orang kreatif  dipastikan akan lebih sejahtera dan memiliki kualitas hidup lebih baik, karena orang kreatif dapat menciptakan nilai tambah dengan basis pengetahuan, termasuk warisan budaya dan tekonologi yang sudah ada, dari ide kreatif dan inovasi sampai ide kreatif terwujud menjadi karya kreatif yang dapat digunakan dan ada pasarnya. Selain itu ekraf dapat mengangkat nama bangsa Indonesia ke tingka dunia,” kata Mari Elka.