Teknopreneur.com – Produk makanan dan minuman dalam kemasan banyak ditemui di pasaran. Dari produk sejenis mi instan hingga minuman dikemas dalam berbagai wadah seperti plastik, kertas, kaca, aluminium foil sampai styrofoam.  

Apabila ditelisik lebih jauh, kertas bisa terkompos dalam jangka waktu 4-5 tahun. Sedangkan, plastik dapat terdegradasi dalam kurun waktu 20 tahun. Lebih parah lagi, apabila kita mengonsumsi wadah berbahan dasar kaca, kaca terdegradasi selama 300 tahun. Bisa dibayangkan bumi tempat hunian menjadi penuh sampah dalam beberapa dekade ke depan.

Oleh karena itu, salah satu perusahaan Swedia bernama Tetra Pak menciptakan inovasi teknologi berupa kemasan berbasis daur ulang – aseptik. Perusahaan tersebut menggunakan campuran kertas, aluminium dan plastik yang tahan air. Ditambah, kemasan dibuat agar tahan dari serangan bakteri.

Kemasan Tetra Pak ini juga dirancang bisa didaur ulang dan mudah terdegradasi. Maka, setelah produk digunakan, jangan langsung segera dibuang ke tempat sampah sampah tetapi dibuang ke tempat daur ulang.

Beberapa tempat daur ulang diantaranya PT Eco Bali, Yayasan Kontak Indonesia, Greeneration Indonesia, Markas Jaringan Pendidikan Lingkungan, SDN 12 Pagi Bendungan Hilir, dan YAPSI.

Sebelum tiba ke tempat penampungan, kemasan harus dalam kondisi bersih. Kemasan Tetra Pak pertama-tama dibuka sisi atas atau sisi bawahnya kemudian ratakan. Atau bisa juga, kemasan Tetra Pak bagian samping digunting menjadi lembaran.

Selanjutnya, kemasan tersebut dicuci hingga bagian paling dalam sampai bersih untuk menghindari kemasan agar tidak berbau dan berjamur. Tahap terakhir, kemasan yang telah dicuci kemudian dikeringkan ataupun diangin-anginkan. Kemasan yang sudah kering lalu ditumpuk secara rapi.