Teknopreneur.com– Rendahnya iklim inovasi di Indonesia, menurut Prof Zuhal yang merupakan mantan Menristek RI yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universi- tas Al Azhar Indonesia dan ketua Komite Inovasi Nasional (KIN) dikarenakan minimnya dana litbang yang dianggarkan pemerintah.

“Selama ini Indonesia hanya menganggarkan sebesar US$0,72 miliar dari PDB pada tahun 2010 untuk dana Litbangnya, dan tentu saja menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Negeri ini. Bahkan jika dibandingkan dengan negeri sekawasan di Asean yakni Malaysia (US$2,6 miliar) dan Thailand (US$1,46 miliar) yang populasinya lebih sedikit dibandingkan Indone- sia,” ujarnya. Anggaran riset Indonesia saat ini hanya sekitar 0,9 % dari APBN atau sebesar 0,08 % dari Produk Domestik Bruto (PDB nasional (Kompas, 2012).

Bahkan, sejak tahun 2006 saja, Singapura telah jauh menganggarkan dana untuk litbang sebesar 2,36 % dari PDB nya, Malaysia sebesar 0,63 % dari PDB nya, dan Thailand sebe sar 0,25 % dari PDB nya. Dengan melihat besarnya alokasi litbang tersebut, maka tak heran apabila Singapura bertahan menjadi sebuah negara yang memiliki daya saing tertinggi di Dunia. Namun, tingginya alokasi dana riset penelitian tersebut takkan berarti apa-apa tanpa melibatkan stakeholder terutama yang berada di daerah, mengingat Indonesia merupakan negara yang luas rentang kendalinya cukup besar.

Pemerintah Harus ‘Royal’ “Kita (merujuk ke Pemerintah Daerah lainnya) harus meniru Provinsi Jawa Tengah. Hampir Rp1,4 Triliun itu hanya untuk Sistem Inovasi Daerah (SIDa) saja, nilai sebesar itu belum spesifik untuk aktivitas risetnya. Jadi, proses pendukungan kepada ekosistem inovasi memang harus besar nilainya, karena ini merupakan hal yang strategis.  Itu yang diterapkan oleh negara-negara maju.

Keberhasilan SIDa tidak melulu menjadi tanggung jawab Kemenristek (pemerintah pusat) namun juga melibatkan banyak sektor, mereka (pemerintah daerah) harus ikut memikul tanggu- ng jawab,”tukas Yani Sofyan,Kabid Penguasaan dan Pengembangan Iptek Industri Kecil dan Menengah, Kemenristek RI. Lebih luas, Prof Zuhal menyatakan bahwa perbaikan ekosistem inovasi di Indonesia harus diawali dengan alokasi dana Litbang yang memadai.

“Semua negara maju (advanced economy), tanpa terkecuali, mereka mengalokasikan dana litbang diatas 1 persen PDB. Yang terbesar adalah Amerika Serikat dengan alokasi US$405,3 miliar atau 2,7 persen dari PDB (2011).”Ia pun menulis di dalam bukunya: Gelombang Ekonomi Inovasi ; Kesiapan Indonesia Berselancar di Era Ekonomi Baru, bahwa pembiayaan litbang sebesar 1 % PDB per tahun memegang posisi penting sebagai prasyarat menyalanya mesin pertumbuhan ekonomi.

Namun, hal ini sekaligus problematis lantaran memerlukan alokasi dana yang tidak sedikit dan memerlukan political will yang kuat. Karena itulah, diperlukan skema pendanaan alternatif yang melibatkan Pihak BUMN, swasta, dan Investasi Luar Negeri Langsung (FDI). Salah satu diantaranya beru- pa venture capital , angel capital , dan CSR dalam memenuhi dahaga riset penelitian dan inovasi di Indo- nesia yang dihasilkan dari berbagai kalangan, baik dari akademisi dan peneliti, maupun bagi pelaku usaha dan industri.

Sebagaimana yang terjadi di negara-negara advanced economy, porsi pembiayaan litbang pemerintah-nya kian mengecil dari waktu ke waktu. Hal ini, karena persentase terbesar kontribusi dana litbang nantinya akan dipegang oleh swasta dibandingkan dengan porsi pemerintah dan BUMN