Teknopreneur.com – Seperti yang diketahui jumlah penderita kanker di dunia setiap tahun selalu bertambah dengan kisaran 6,25 juta orang, dan dua pertiganya berada di negara berkembang mencakup Indonesia. Data Kementerian Kesehatan pun menunjukkan jumlah jumlah penderita kanker di Indonesia mencapai 6% dari populasi.

Selama ini orang-orang baru bisa melakukan tindak penyembuhan misalnya melalui pembedahan, penyinaran dan  kemoterapi. Permasalahannya, penanganan tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama. Pengidap kanker pun harus menjalani penyembuhan secara intensif karena jika dibiarkan sel kanker akan cepat berkembang biak. Salah satu dari 10 penyakit kanker yang mengancam jiwa yakni kanker otak.

Penyakit kronis yang ditandai dengan gejala sakit kepala ini jangan dianggap sepele. Proses penyembuhannya yang sangat rumit dan berkaitan erat dengan fungsi kerja otak sehingga kemungkinan berakibat fatal. Tidak hanya fungsi otak sebagai daya penangkap memori tetapi berpengaruh besar terhadap fungsi-fungsi organ lainnya karena semua pusat perintah berada di dalam tempurung kepala tersebut.

Perusahaan bioteknologi yang menangani imunoterapi kanker, Agenus, memberikan hasil positif dalam penciptaan vaksin kanker terutama kanker otak. Pada Juni 2014 ini, Agenus memberikan kabar baik bahwa penelitian untuk membuat vaksin tersebut telah melewati fase II single-arm. Vaksin tersebut berasal dari G-100 yang merupakan heat shock protein gp56 sama baiknya dengan HerpV, vaksin untuk herpes simplex virus-2.

“Fase selanjutnya akan dikembangkan dengan skala yang lebih besar bersama-sama dengan National Cancer Institute (NCI), di samping itu akan lebih menginvestigasi lebih lanjut pengolahan profag seri G-200 digabungkan dengan Avastin (bevacizumab),” tutur Andrew Parsa, kepala unit bedah saraf di Rumah Sakit Northwestern Memorial, Chicago Amerika Serikat.

Pemakaian Avastin telah diujicobakan terhadap penderita glioblastoma multiforme (GBM). Sekitar 90% dari 41 pasien yang menderita GBM dapat bertahan hidup setelah mendapatkan terapi selama 6 bulan dengan profag seri G-200.