Teknopreneur.com – Pengembangan energi terbarukan (EBT) menjadi salah satu prioritas pemerintah Indonesia dewasa ini. Pemerintah Indonesia pun berkomitmen mencapai visi 25/25, yaitu pemanfaatan EBT 25% pada tahun 2025.

Berdasarkan lampiran II Keppres no.5/2006 tentang Kebijakan Energei Nasional porsi EBT berupa biofuel >5%, panas bumi >5% dan EBT lainnya >5%. Untuk mencapai target hingga 25% EBT tersebut maka dibuatlah program-program kerja EBT mencakup listrik pedesaan, interkoneksi pembangkit EBT, pengembangan biogas, Desa Mandiri Energi (DME), Integrated Microhydro Development Program (IMIIDAP), PLTS perkotaan, pengembangan biofuel, dan proyek percepatan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II berbasis EBT (panas bumi dan hidro).

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Dedy Supriadi Priatna menuturkan,”realisasi penyediaan energi Indonesia membutuhkan investasi yang sangat besar sejumlah Rp535 triliun selama 2015-2019”. Di sisi lain, Indonesia membutuhkan dana Rp134 triliun guna mengembangkan sumber-sumber EBT sampai tahun 2025.

Dana tersebut akan dipergunakan Pemerintah untuk menambah kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW pada tahun 2025, kapasitas terpasang biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin (PLT Bayu) sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada tahun 2024, dan nuklir 4,2 GW pada tahun 2024.