Teknopreneur.com – Apa yang terlintas ketika membaca kata hijau? Banyak yang menghubungkan hijau dengan simbol dari energi terbarukan. Energi yang ramah lingkungan. Dunia memang sedang ramai memperbincangkan energi ramah lingkungan tersebut. Padahal, beberapa tahun belakangan, energi ini sempat terabaikan dan diacuhkan.

Bahkan, Bank Dunia sempat menganggap remeh potensi energi hijau tersebut. Jika ditelusuri lebih dalam, kapasitas produksi energi hijau ini saat ini 10 kali lipat lebih besar ketimbang yang diperkirakan.

Christine Lins, sekretaris jendral di Renewable Energy Policy Network 21st Century (REN21) mengiyakan, “Energi terbarukan memasok sekitar 25 persen dari kebutuhan energi global”.

Mengingat pentingnya prospek energi hijau ini, dunia mulai beramai-ramai berinvestasi.  Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Maria van der Hoeven, menyebutkan “investasi untuk pembiayaan energi IEA menggelontorkan berkisar USD1,6 triliun per tahun”.  

Sedangkan hingga 2035, investasi yang dibutuhkan untuk ketersediaan energi dunia mencapai USD50 triliun atau Rp591.400 triliun. Dari perkiraan dana tersebut, 80 persen akan dipergunakan untuk penyediaan energi.

“Energi tersebut salah satunya harus dialokasikan untuk energi terbarukan” pungkas Maria van der Hoeven.