Teknopreneur.com – Cadangan energi konvesional yang semakin menipis menjadi masalah serius tidak hanya di dunia tetapi juga di Indonesia. Maka dari itu, energi terbarukan (EBT) hadir sebagai solusi tepat di tengah krisis energi. Solusi energi hijau ini pun dioptimalkan bukan sekadar sebagai energi alternatif tetapi harus menjadi penyangga pasokan energi nasional.

Berdasarkan data Kementerian ESDM menyebutkan Indonesia memilik potensi EBT yang cukup besar diantaranya mini/mikro hydro sebesar 450 MW, biomassa 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW.

Dengan jumlah EBT sebanyak itu, tidak heran banyak investor asing melirik sumber daya hijau tersebut. Salah satunya Bank Pembangunan Asia (ADB) telah menanamkan modal sebesar USD2,3 miliar untuk pengembangan EBT di Asia dan pasifik terutama di Indonesia. Kita pun bisa tengok negara Jerman dan Prancis yang telah menanamkan investasi sebesar USD10 miliar di geotermal pada April 2012. Finlandia mengajukan kerjasama di bidang biomasa di provinsi Kalimantan Tengah dan Riau sebanyak 4 juta euro. Chevron Co. yang merupakan produsen gas terbesar kedua dunia lebih dahulu berinvestasi di bidang panas bumi dan energi laut pada tahun 2011.

Tidak ketinggalan dengan Amerika Serikat dan Selandia Baru berinvestasi membangun PLTP 4 GW tahun 2015. Di sisi lain, tahun 2014, Jepang bekerjasama dengan Kementerian ESDM akan bekerjasama dalam pembangunan EBT di bidang geotermal.

Setelah kunjungannya dari negeri matahari terbit tersebut, Menteri ESDM Jero Wacik menuturkan “Jepang atas nama Inpex Corporation mau tanam investasi untuk geotermal”.