Teknopreneur.com – Dulu orang berpikir modal lah yang menghambat pertumbuhan tapi kenyataannya bukan itu melainkan pasar. Misalnya ada orang yang diberi modal untuk membuat software namun setelah jadi ia bingung mau dipasarkannya dimana, itu yang paling menghambat. “Tak semua perusahaan software bisa bertahan karena siklusnya pendek harus sering-sering berinovasi. Di Amerika sendiri dari 1000 startup baru hanya 6‰  yang mendapatkan Capital Finder, itu karena startup atau teknopreneur yang benar-benar bagus yang akan bertahan.  Di Indonesia hingga saat ini belum pasti berapa yang bertahan di Indonesia. Di Aspiluki sendiiri perusahaan software yang terdapat ada 250 dan yang aktif menjadi anggota ada 65. Sebenarnya perusahaan software banyak namun yang benar-benar hidup itu jarang sekali. Lihat saja di android, banyak sekali software buatan Indonesia tapi keesokannya tak ada lagi di android. Karena tak laku,”terang Ketua Aspiluki Djarot Subiantoro.

Harusnya bermainlah seperti India, yang awalnya menjadi tukang industri luar negeri seperti IBM, Oracle kemudian ia aplikasikan ke industri dalam negeri. Kemudian industri dalam negeri lah yang diunggulkan, software-software dalam negeri yang digunakan. Namun Indonesia sejarahnya memang terbiasa menjadi konsumen sehingga kini 80% software Indonesia adalah ekspor.

Indonesia sendiri gak yakin apakan bisa menjadi pemain dalam industri ini.  Software lokal baru mengarah pada industri lokal, seperti UKM atau UMKM. Industri software memang dikuasai oleh negara maju, lokal kalah banget, lokal main nya baru industri kecil. Seperti UKM UMKM. Sedangkan software luar justru digunakan perusahaan besar. Misalnya software SAP dari Jerman yang menggunakan Telkom, Garuda,Pertamina. 

Dulu orang berpikir modal lah yang menghambat pertumbuhan tapi kenyataannya bukan itu melainkan pasar. Misalnya ada orang yang diberi modal untuk membuat software namun setelah jadi ia bingung mau dipasarkannya dimana, itu yang paling menghambat. Tak semua perusahaan software bisa bertahan karena siklusnya pendek harus sering-sering berinovasi. Di Amerika sendiri dari 1000 startup baru hanya 6‰  yang mendapatkan Capital Finder, itu karena startup atau teknopreneur yang benar-benar bagus yang akan bertahan.  Di Indonesia hingga saat ini belum pasti berapa yang bertahan di Indonesia. Di Aspiluki sendiiri perusahaan software yang terdapat ada 250 dan yang aktif menjadi anggota ada 65. Sebenarnya perusahaan software banyak namun yang benar-benar hidup itu jarang sekali. Lihat saja di android, banyak sekali software buatan Indonesia tapi keesokannya tak ada lagi di android. Karena tak laku.

Agar bisa menembus software ini maka bermainlah seperti India, yang awalnya menjadi tukang industri luar negeri seperti IBM, Oracle kemudian ia aplikasikan ke industri dalam negeri. Kemudian industri dalam negeri lah yang diunggulkan, software-software dalam negeri yang digunakan. Namun Indonesia sejarahnya memang terbiasa menjadi konsumen sehingga kini 80% software Indonesia adalah ekspor.

Indonesia sendiri gak yakin apakan bisa menjadi pemain dalam industri ini.  Software lokal baru mengarah pada industri lokal, seperti UKM atau UMKM. Industri software memang dikuasai oleh negara maju, lokal kalah banget, lokal main nya baru industri kecil. Seperti UKM UMKM. Sedangkan software luar justru digunakan perusahaan besar. Misalnya software SAP dari Jerman yang menggunakan Telkom, Garuda,Pertamina. Pemerintah harusnya berperan dalam hal ini bukan menghalangi. Djarot menyarankan agar pemerintah itu saling berkordinasi sehingga antara satu dengan yang lain tidak tumpang tindih tugasnya. Antara Kominfo,parekraf dan kadin itu saling berkordinasi ada yang membukakan pasar ada yang menyuplai sdm. Istilahnya Ada yang demand full dan ada yang supply push, jangan semuanya diurus sehingga industri software kebingungan. Jangan semuanya membuat kebijakan. Pemerintah terlalu sering membuat kebijakan, ganti menteri ganti juga kebijakan itu menghambat. Apalagi harus menggunakan birokrasi yang sistem lama sekali. Baru-baru ini Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012, sekarang outsourcing hanya boleh Cleaning Service, Catering, Security,jasa penunjang pertambangan/perminyakan dan jasa angkutan buruh/pekerja sedangkan untuk tenaga software ini tidak berlaku, hal ini akan menghambat pertumbuhan industri software.