Teknopreneur.com – Sistem kerja robot pemadam kebakaran ini diawali oleh sistem tone detector. Sistem tersebut akan bekerja saat mendeteksi suara yang frekuensinya sebesar 3,5 kHz. Ketika suara terdeteksi, robot otomatis berada pada posisi on. Setelah menyala, robot mulai men-scanning ruangan dengan menggunakan sistem flame detector. Sistem ini menggandalkan gelombang ultraviolet untuk melacak keberadaan api. Berkat sensitivitas yang besar terhadap gelombang ultraviolet yang dipancarkan api, sistem otomatis bekerja saat gelombang ultraviolet muncul. Gelombang ultraviolet yang bisa terdeteksi sistem ini sudah disesuaikan terhadap gelombang ultraviolet yang dimiliki api.

Selama perjalanan, robot terus men-scanning ruangan dengan mengandalkan sistem scanning dari sensor flame detector. Dalam perjalanan juga, robot dipandu oleh sistem flame navigator yang mengarahkan robot menuju sumber api.

Robot pemadam api ini juga dilengkapi dengan sensor white line detector yang akan mendeteksi keberadaan garis putih. Sensor ini akan membantu robot saat berada di dekat pintu ruangan atau titik api.  White line detector secara otomatis akan mengarahkan kipas pemadam ketika robot telah menemukan titik api atau lilin dalam jarak 30 cm.

Robot buatan Chandra Lima Silalahi, Ahkmad Hary S, dan Nicolas Gata JPmempunyai berbagai kelebihan, diantaranya sensor otomatis dan menggunakan tiga buah roda. Sebagai tambahan, robot juga dilengkapi dua roda gir dan satu buah roda free wheelend. Roda-roda tersebut membantu robot untuk lebih mengefisienkan gerakannya. Dengan begitu robot akan lebih gesit begerak sehingga titik api lebih cepat ditemukan. Umumnya, robot pemadam api hanya bergerak dengan membunyikan gelombang suara.

Robot pemadam api ini manjadi salah satu inovasi terbaru dalam desain robot pemadam api karena sangat cocok untuk mencegah kebakaran. Robot ini bahkan pernah meraih juara best design pada kategori Robot Berkaki yang mewakili Regional Sumatera pada kontes robot Indonesia 2014 bulan Mei lalu.