Teknopreneur.com- Tingginya permintaan di dalam negeri menyebakan impor elektronik khususnya produk telepon seluler di Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia impor telepon genggam (handphone), komputer tablet, dan komputer genggam mencapai US$ 2,41 miliar (Rp 23,33 triliun) pada Januari-Oktober 2012. Angka ini naik 17,75% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu US$ 2,05 miliar (Rp 19,51 triliun).

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bachrul Chairi mengatakan  nilai impor tertinggi berasal dari produk HP yang telah mencapai US$ 2,2 miliar sepanjang sepuluh bulan tahun 2012. Pasokan HP terbesar datang dari Tiongkok senilai US$ 993,36 juta, atau berkontribusi 45,14% dari total impor HP.

Hartadi Novianto (Bundling Product Departement Head Smartfren) menganggap pertumbuhan tren tersebut tak diimbangi dengan produksi telepon genggam di dalam negeri. Padahal, produksi lokal diharapkan bisa menutupi kebutuhan masyarakat. Indonesia seharusnya sudah mulai bisa memproduksi perangkat handphone di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan produk impor.

Kementerian Perindustrian berharap komponen lokal sudah ada pada perangkat-perangkat seluler bermerek lokal Indonesia pada tahun 2016, dengan membangun pabrikasi perakitan untuk semua perangkat telekomunikasi. Bahkan pemerintah semakin ketat memberlakukan aturan  impor perangkat elektronik dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 82/2012 tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam, dan Komputer Tablet.

Menanggapi hal ini, Hartadi pun ikut mendukung keputusan ini, menurutnya harga komponen produksi sendiri akan jauh lebih murah dibanding impor.