Teknopreneur.com – Falisha Firyal Hastiti mencoba memukul nyamuk yang berada di depan layar. Tubuhnya bergerak ke kiri dan kanan. Depan dan belakang. Setelah itu ia mencoba memecahkan balon yang tertuliskan huruf sesuai perintah suara dari software Lexipal. Berkali-kali ia gagal, namun ia tak langsung pasrah. Gadis pengidap penyakit diseleksia itu masih saja penasaran.

Begitu juga saat harus menunjukkan perbedaan yang ada pada dua gambar. Dan menyusun huruf menjadi suku kata. Rautnya agak sebal saat ia masih terbalik saat menyusun huruf, namun mimiknya langsung berubah saat ia berhasil menyusun hurufnya. Apalagi ketika gadis berusia enam tahun itu mendapatkan predikat hebat dari Lexipal.

Senyum sumringah pun terlihat dari Novia Susanti, ibunda dari Falisha. Ia tak menyangka anaknya terbantu dengan ada software Lexipal buatan, mahasiswa Magiter di Universitas Gajah Mada (UGM). Padahal tahun lalu, saat software buatan NextIn juara Mandiri Young Technopreneur 2012 ini, ia anggap mustahil bisa membantu anaknya dala proses belajar.

“Karena software buatan dari Lexipal saat pertama kali dipersentasikan sederhana dan tak spesifik apakah media belajar untuk anak diseleksia, anak down syndrome atau orang yang buta huruf,”katanya. Namun saat Lexipal diujicobakan kembali, ia baru mengakui bahwa software ini memang cocok untuk anak diseleksia seperti anaknya. Dan ia berharap software diseleksi tetap ada perkembangannya agar anaknya bisa cepat dalam belajar seperti anak normal lainnya.

Ternyata harapan itu tak muncul dari Novia Susanti, ada 31 anak lainnya yang berharap serupa. Karena dengan software Lexipal, terapi yang diberikan tidak seperti terapi namun seperti main games. Sehingga anak-anak diseleksia seperti bermain dan tidak merasa tertekan.

“Dan yang paling penting software Lexipal bisa menumbuhkan self correction pada diri sang anak, sehingga sang anak bisa sadar bahwa dirinya melakukan kesalahan dalam membaca, menulis atau menentukan arah. Dengan tumbuhnya self correction maka akan meminimalisir diseleksia pada anak,” kata Ketua Asosiasi Diseleksia Indonesia(Adi), Kristiantini Dewi. Software ini juga bukan hanya ditujukan pada anak, namun juga pada orang dan therapi (Home person dan therapist person).  Sehingga bisa membantu terapis dalam menerapi penderita. Begitu juga pada orang tua.