Teknopreneur.com – Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta tampak antusias mengikuti kegian Teknopreneur Forum on Campus bertema ‘Membangun Bisnis Teknologi’  (20/6). TFOC kali ini mendatangkan tiga pemateri yaitu Hartadi Novianto (Bundling Product Departement Head Smartfren), Nixon LP Napitulu (Senior Vice President Corporate Secretary Bank Mandiri), dan Syauki Amin (CEO PT. Siskem Aneka Indonesia).

Disadari atau tidak negara yang maju didorong oleh para enterpreneur. Karena mereka yang memberi income kepada negara, juga memberi lapangan kerja kepada masyarakat. Namun Indonesia tak hanya butuh enterpreneur tetapi lebih dari itu, yaitu teknopreneur-teknopreneur baru.

Saat ini zaman telah berubah, jika dulu masyarakat dimanjakan dengan layanan sms dan telpon, sekarang sms sudah mulai ditinggalkan berganti ke WhatsApp dan BBM, chatting dan video call.

Hal ini diakui Hartadi, menurutnya provider dituntut  menyediakan layanan pengiriman data yang cepat.

Senada dengan Hartadi, Nixon pun menjelaskan bisnis di bidang teknologi masih memiliki peluang yang besar.

“Meskipun bank bukan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, tapi bank adalah konsumen yang paling banyak menggunakan teknologi informasi. “

Nixon menjelaskan jika dulu banyak transaksi yang dilakukan di cabang, sekarang 92% transaksi Bank Mandiri dilakukan melalui sistem pembayaran online. Bahkan perbankan bisa berinvestasi teknologi sampai triliunan rupiah untuk satu tahun.

Membangun bisnis teknologi memang bukan hal yang mudah. Hal ini diakui oleh Syauki. Ketika memulai membuka PT. Siskem Aneka Indonesia (SAI) di tahun 1998 banyak tantangan yang harus ia lalui. Perusahaannya dibuka dari sebuah ruko kecil, tak seperti perusahaan lain yang khusus memesan kursi dan meja kerja. Ia mengambil kursi dan meja dari rumah. Kantor dijadikan tempat bersama untuk proses kimia juga manajemen.

“Badan sampai sudah berbau kimia,” candanya.

Proses produksi pun tak bisa dilakukan pagi hari, mereka harus mengerjakannya malam hari pukul  11, setelah toko-toko lain tutup,karena menggunakan bahan-bahan yang menimbulkan bau tak sedap.

“Bisa-bisa mereka akan komplain,” ujarnya.

Tetapi lihat hasilnya kini, setelah 16 tahun berselang, Syauki telah memiliki enam perusahaan. Ia juga menerangkan bahwa mahasiswa tak perlu berpikir inovasi adalah hal yang sulit dan rumit. Inovasi bisa dilakukan dengan mengimitasi sesuatu tetapi yang tak boleh ditinggalkan adalah tambahan ide-ide kreatifnya. Apalagi di zaman sekarang informasi begitu mudah diakses.

“Dulu saya nggak ada yang ngajarin, sekarang semua bisa dipelajari lewat internet.”

Tak lupa ia berpesan, yang tak kalah penting dalam membangun bisnis teknologi  adalah berkolaborasi dengan orang lain yang kompeten.