Teknopreneur.com – Terkadang pengajar mengabaikan murid yang lambat menerima pembelajaran. Sayangnya, di satu sisi murid-murid seperti ini dicap sebagai anak bodoh. Sebaiknya orang tua mendeteksi sejak dini karena kemungkinan si anak menderita disleksia.

NextIn Indonesia, tim yang dibentuk awal tahun 2012 ini mengembangkan software edukasi untuk penyandang disleksia. Ketertarikan untuk membantu kaum disabilitas bukan tanpa alasan. Tim dari empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terdiri dari Muhamad Rizqi Utama Kuntoro, Adi Nugroho, Vremita Desectia A dan Vina Sectiana memiliki kepedulian terhadap problem sosial.  

Awalnya Juara Mandiri Young Technopreneur dan  INAICTA pada tahun 2012 ini tidak tahu inovasi apa yang paling dibutuhkan untuk mereka kembangkan. Dan setelah mereka berdiskusi dengan para  psikolog, mereka menarik kesimpulan bahwa inovasi yang dibutuhkan saat ini adalah inovasi khususnya menjadi jembatan pembelajaran untuk penderita disleksia. Karena data menunjukkan 10 -15% anak sekolah menyandang disleksia dan diperkirakan di Indonesia lima juta di antaranya menderita disleksia. Dan saat ini belum ada inovasinya untuk penderita disleksia.

Maka diperlukan media pembelajaran untuk mereka, contohnya software edukasi – Lexipal. Di Indonesia, Lexipal merupakan software edukasi untuk penyandang disleksia baru diciptakan pertama kalinya. Sementara software mirip Lexipal sendiri berasal dari Inggris dan yang digunakan di Indonesia semisal software untuk sebatas memahami huruf. Kristiantini Dewi Soegondo selaku ketua Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) menuturkan bahwa Lexipal sudah lengkap karena berisi varian ingatan jangka pendek, pemahaman kosakata yang lebih spesifik dan persepsi arah.

Pembuatan software edukasi ini melibatkan pakar di bidangnya baik dari psikolog, terapis, dokter, Indigrow Child Development Center dan ADI. Dan kini software ini telah siap untuk digunakan dan telah diimplementasikan sejak Rabu hingga Jumat hari ini (18-20/6) di Indigrow Child Development Care Center Bandung. Sekitar 32 anak didampingi dokter, terapis dan orang tua mengikuti kegiatan tersebut. Evaluasi pengimplementasian ini akan dilakukan bulan depannya bersama dokter, psikolog dan terapis. Saat ini, NextIn pun sedang merencanakan membuat prototip baru untuk penyandang disleksia berikutnya.