Teknopreneur.com – Jika Isara menciptakan software edukasi yang ditujukan untuk tuna rungu, lain lagi dengan Juara Mandiri Young Technopreneur 2012 ini, NextIn Indonesia. Tim yang terdiri atas Muhamad Rizqi, Utama Kuntoro, Adi Nugroho, Vremita Desectia A dan Vina Sectiana mengembangkan software edukasi untuk penyandang disleksia.

Beranjak dari ketertarikan terhadap masalah sosial kemudian keempat mahasiswa Universitas Gadjah Mada Ini membuat software yang dinamakan Lexipal. Menurut founder NextIn Indonesia, yang akrab dipanggil Rizqi, Lexipal yang merupakan abreviasi dari Lexi dan Pal. Lexi dari dyslexia sedangkan Pal dari panggilan akrab untuk teman yang diambil dari kosakata bahasa Inggris.

Seperti namanya, laiknya teman Lexipal disajikan dengan tampilan dan konten yang menarik yang nantinya anak-anak merasa senang untuk belajar. Lexipal memang dibuat tidak hanya sebagai media pembelajaran tetapi sebagai teman untuk memudahkan proses belajar.

Aplikasi yang terdiri atas dua versi home dan therapist version ini pun sudah diujicobakan sejak hari Rabu kemarin hingga Jumat ini (18-20/06). Program uji coba tersebut diikuti oleh 32 anak, 2 dokter, 1 psikolog, dan 4 terapi. Program tersebut dibagi dua bagian, pertama uji coba software kinetik dan uji coba software non kinetik. Pada saat diujicobakan, anak-anak begitu antusias mengikuti program satu persatu.

Falisha misalnya, anak perempuan berumur 6 tahun ini tidak mau beranjak dari bangkunya. “Aku mau milih kolam renang,” katanya senang sembari menunjukkan model kolam renang yang disajikan dalam software tesebut.

Diakui memang oleh ibunya bahwa software ini membantu anaknya. “ media ini berperan penting untuk selfcorrection sehingga anak menjadi lebih aware terhadap keadaan sekitarnya,” ungkapnya. Ibunya pun menambahkan bahwa sarana pembelajaran saat ini lebih lengkap dan sangat membantu anak-anak disleksia tidak seperti dulu ketika Falisha baru masuk terapi. Media yang digunakan masih sederhana.

Lain halnya, Gadiza mengakui senang bermain dengan peraga kinetik. “Aku lebih suka yang gerak-gerak soalnya aku bisa tepuk-tepuk nyamuk” kata Gadiza ceria. “Tuh, aku pintar kan” katanya bangga karena dapat menyelesaikan tiap-tiap model dengan cepat.

Anak perempuan yang menginjak umur 7 tahun ini selalu ditemani oleh kakek dan neneknya. Pendapat kakeknya terhadap software tersebut dianalogikan melalui mobil, motor dan sepeda. “Saya pergi ke tempat ini dengan menggunakan mobil perlu waktu 1 jam lebih untuk sampai sini, beda jika saya pergi naik motor mungkin saya bisa menempuh 30 menit karena saya dapat menyalip kendaraan lain dengan cepat, apalagi sepeda, jangan-jangan saya menempuh hanya 10 menit, jika ada yang lebih cepat dan efektif kenapa tidak dimanfaatkan,” ucapnya.