Teknopreneur.com- Banyak orang berkata tentang penghematan energi, tentang efisisensi, namun untuk mencapai clean energy bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan strategi untuk melakukannya. Tetapi, tahukah anda, bahwa Indonesia memiliki peluang menurunkan energi 10-15% hanya dengan mengubah pola perilaku. Jika dengan investasi Indonesia bisa menghemat hingga 35%, ternyata ada banyak hal yang kita lakukan tanpa investasi. Yang harus dilakukan adalah bagaimana mengedukasi masyarakat agar mau melakukan penghematan.

Iwa Garniwa, head of electrical power and energy studies UI (EPES UI) mengatakan penghematan energi dapat dilakukan dengan seting AC misalnya, penaikan penempatan AC, bisa menghemat listrik. Sebenarnya banyak potensi yang bisa dilakukan untuk efisiensi energi. Sektor yang bisa direduksi adalah industri dan rumah tangga.

Menurut Iwa, Indonesia adalah negara yang boros. Indonesia adalah negara tropis, penggunaan AC harusnya digunakan untuk menyejukan saja, suhu 20 derajat saja sudah dingin di Indonesia. Belum lagi listrik yangdianggap murah, akhirnya menjadikan masyarakat boros dalam pemaikaiannya. Bandingkan jika masyarakat menganggap listrik mahal, maka ia akan menghemat dalam menggunakannya.

“Naikan harga listrik dalam rangka efisiensi, jadi perilaku masyarakat berubah,” ujar Iwa.

Iwa berpendapat ada pengetahuan yang salah tentang apa yang kita lakukan dalam penghematan energi. Mematikan listrik atau AC. Padahal penghematan dilakukan bukan dengan mematikan fungsinya. Seharusnya caranya yaitu  dengan menggunakan lampu pijar yang hemat energi.

Juga tentang subsidi yang salah sasaran, menurut Iwa subsidi itu diperuntukkan untuk industri atau orang yang benar-benar membutuhkan bukan produknya yang disubsidi, “Subsidinya harus didirect langsung, meski awalnya akan menimbulkan reaksi dari masyarakat,” ucap Iwa.

Selain itu, Iwa mengungkapkan yang  harus dilakukan adalah dengan strategi energi standar dan labeling, seperti di negara Cina. Bagaimana produk memiliki label dari bintang satu sampai empat misalnya. Jadi masyarakat tinggal memilih, mau berhemat atau tidak. Masyarakat harus ditekan untuk menghemat energi,

“Jadi nggak ada yang penting murah tapi nyatanya tidak hemat energi,” tambahnya.