Teknopreneur. com – Serangan hama bisa berdampak fatal, bukan hanya saat proses penanaman namun juga panen dan pasca panen. Misalnya saja di tahun 2009, para petani di Klaten, Wonogiri dan Sukoharjo Jawa Tengah kebingungan karena serangan hama werengnya menghancurkan ribuan hektare sawah. Gagal panen pun terjadi, padahal sebelumnya telah disemprot oleh pestisida.

Pestisida  yang mereka semprot bukannya mematikan hama namun justru membuat tanah menjadi rusak. Oleh sebab itu dibutuhkan inovasi untuk mengusir hama dari lahan pertanian, baik saat proses penanaman, panen hingga pasca panen. Tunggul Dian S (25) tahun akhirnya menemukan inovasi untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Berbeda dengan orang kebanyakan yang menambah dosis pestisida, Tunggul justru tidak menggunakan pestisida sama sekali. Ia menggunakan teknologi suara ultrasonik  dengan range antara 25.000-50.000 Hz. Teknologi tersebut bernama Genitech, yang mampu menjangkau frekeunsi suara komunikasi dari hama di sawah.

Dengan Genitech, hama-hama tidak langsung dimusnahkan namun dihambat perkembangannya. Misalnya kupu-kupu yang tidak bisa bertelur (kleper). Dari segi bisnis penggunaan teknologi ini lebih efisien karena tidak perlu repot menyemprot hama namun cukup dengan mengecek alatnya saja.

Meski harga pasaran di kalangan petani sekitar 2jutaan rupiah namun jika dihitung menggunakan alat ini bisa menghemat biaya. Karena  satu alat yang dipasang, bisa menjangkau luas lahan satu hektar areal persawahan. Sehingga bisa lebih hemat dibandingkan dengan melakukan pembasmian hama dengan pestisida.

Tunggul  yang terpilih sebagai periset yang masuk program RAMP Indonesia Yayasan Inotek ini kini sedang mengembangkan inovasinya agar hama yang bisa dicegah perkembangbiakannya bukan itu-itu saja. Sehingga hama tak lagi menjadi dalang utama penyebab kegagalan panen raya.