Teknopreneur.com- Pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup besar sekitar 6% per tahun, tiga tertinggi di dunia. Hal ini membuat konsumsi energi nasional tumbuh sekitar 7% per tahun bahkan pertumbuhan konsumsi energi listrik tumbuh 9% per tahun.

Di tahun-tahun mendatang kebutuhan energi diperkirakan terus meningkat. Kebutuhan energi yang tinggi ini tidak diiringi dengan supply energi yang seimbang. Ketergantungan Indonesia akan energi fosil sangat tinggi, dari minyak bumi 47%, gas 24%, batu bara 24%, dan sumber energi terbarukan baru 5%. Padahal cadangan dan produksi minyak semakin menurun. Dan sejak 2003 Indonesia telah menjadi net importir minyak.

Produksi minyak mentah Indonesia pada tahun 2013 hanya sekitar 840.000 barel per hari sedangkan konsumsi BBM Indonesia sekitar 1,5 juta barel per hari. Pada tahun 2012 Indonesia harus mengimpor BBM dan minyak mentah dunia senilai 42 milyar US$ atau sekitar 20% dari total impor Indonesia.

Sejak menjadi negara net importir minyak, dan bertahun-tahun mengimpor BBM, menimbulkan dampak buruk pada nilai tukar rupiah, transaksi perdagangan, ketahanan energy, serta kemandirian bangsa. Pemanfaatan energi baru terbarukan harus ditingkatkan dan dipercepat. Minyak dan gas saat ini masih menjadi andalan supply energi. Dengan kebutuhan yang semakin tinggi, Indonesia harus mempersiapkannya, maka energi baru terbarukan adalah satu-satunya jaminan untuk kemandirian bangsa di masa depan seperti yang disampaikan oleh Wakil Presiden Indonesia, Budiono dalam pembukaan EBTKE ConEx 2014 Di JCC Senayan bertema “Time to Deliver Clean Energy for the Nations” (4/4).

Indonesia dikarunia banyak potensi energi terbarukan, seperti panas bumi, hydro, surya, biomasa/biogas, dan samudra. Indonesia terletak di katulistiwa dengan radiasi matahari 4,5-6,5 KWH/m2/tahun yang sangat potensial untuk pembangkjit listrik. Potensi energi angin yang diketahui saja 960 MW, dan sampai saat ini baru dimanfaatkan sekitar 1,64 MW.

Sebagai negara kepulauan Indonesia juga memiliki banyak teluk dan relung laut, Indonesia sangat kaya akan potensi energi samudra seperti pasang surut, energi gelombang, arus laut dan energi panas laut. Energi samudra merupakan energi yang paling mudah dibanding jenis energi yang lain. Saat ini, masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, jika teknologinya sudah mapan, bukan tidak mungkin energi samudra menjadi andalan Indonesia.

Jero Wacik, Menteri ESDM mengatakan Indonesia harus bersyukur diberikan semua sumber energi. Panas bumi hampir 30.000 MW ada di bawah tanah Indonesia, dari sabang sampai merauke. Menurutnya paradigma masyarakat harus diubah, jika nggak ada batu bara, minyak, jangan pesimis soal energi. Padahal di daerahnya ada gunung merapi, ada danau, ada sungai, dan ada matahari setiap harinya.

“Potensi energi baru terbarukan melimpah ruah di negeri kita, baru 5-6%  yang kita kerjakan. Karena itu tidak ada kata lain selain terus bekerja untuk energi terbarukan,” ucapnya.

Ada bebrapa kendala yang harus dihadapi dalam peningkatan energi baru terbarukan ini seperti belum tercapainya harga ekonomi yang diminati investor, proses perizinan yang menghambat, kurangnya kesiapan pengembang, kurangnya dukungan penelitian, serta belum adanya subsidi seperti dalam energi fosil.

“Subsidi energi fosil menjadi hambatan utama dalam pengembangan energi terbarukan dan penerapan energi konservasi, dalam realisasinya nanti akan dilakukan secara bertahap,” terang Budiono.