Teknopreneur.com – Berkurangnya pasokan energi minyak bumi di Indonesia menyebabkan seringnya jadwal pemadaman listrik di berbagai daerah. Pemadaman ini bahkan dilakukan saat siswa sekolah menengah pertama tengah melangsungkan ujian.

Ternyata, kelangkaan energi tak hanya terjadi pada minyak bumi. Gas yang menjadi salah satu sumber energi yang baru dikembangkan pemerintah Indonesia juga dikabarkan sering kekurangan pasokan. Penyebab kekurangan pasokan ini terjadi bukan karena persediaan gas di Indonesia menipis, akan tetapi karena pengelolaan yang belum tepat.

Mailinda Eka Yuniza dari Pusat Studi Energi Universitas Gajah Mada (UGM) mengatakan pengelolaan gas bumi di Indonesia perlu mengalami regulasi di berbagai aspek. Menurutnya, secara hukum, Indonesia belum berdaulat penuh atas pengelolaan energy dalam negeri. Padahal, menurutnya sumber daya alam berupa gas bumi sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia.

Tak berdaulatnya Indonesia pada pengelolaan gas bumi menyebabkan berbagai masalah teknis bermunculan. Terkendalanya pembangunan pipa gas bumi menjadi salah satu penyebab seringnya pasokan gas di Indonesia berkurang. Menurutnya, beberapa titik yang mampu mengahsilkan gas bumi belum mempunyai infrastruktur yang memadai untuk mendistribusikan gas ke bebagai daerah. Akibatnya, banyak daerah yang tak pendapat pasokan gas bumi.

Mailinda berharap, Indonesia dapat memprioritaskan pengelolaan gas bumi. Apabila hal ini dilakukan, Indonesia dapat mencukupi kebutuhan energi dalam negeri, bahkan dapat mengekspor gas bumi yang telah diolah ke negara lain dengan harga yang lebih mahal. Pengelolaan ini juga menurutnya perlu dilakukan secara mandiri oleh pemerintah Indonesia. Ia yakin pemerintah Indonesia mampu mengelola minyak bumi secara profesional. Hal itu ia sampaikan dalam seminar energi dan teknologi terbarukan dengan tema “Tata Kelola Gas Bumi Sebagai Perwujudan Kedaulatan Energi di Indonesia” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM-F) Hukum Universitas Lampung pada (16/5) di Balai Keratun, Bandarlampung.