Teknopreneur.com – Sebenarnya sakit flu tapi diberikan obat banyak sekali seperti pasien yang terjangkit penyakit parah. Begitu juga dengan konsultasi sebenernya tak mesti ke dokter spesialis, tapi malah dilarikan kesana. Tak ayal, bukan sedikit uang yang keluar. Padahal dengan satu obat saja penyakit bisa disembuhkan.

Maka itulah dibutuhkan inovasi untuk mengurangi kecurangan yang dilakukan oleh pihak medis. Kementerian kesehatan akhirnya melaksanakan sistem INA CBGs untuk program jaminan kesehatan masyarakat yang kini berubah menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).  Menurut Sekertaris Jenderal Kemenkes, dr Supriyantoro, Sp.P sistem ini diberlakukan agar para medis tidak jor-joran menggunakan obat atau tindakan yang sebenarnya tak perlu dilakukan oleh pasien. “Jika mereka tetap jor-joran maka rumah sakit yang rugi,”katanya saat rapat Dewan TIK Nasional di Kementerian Kesehatan (13/5).

Sistem yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2010 kini sudah diaplikasikan di 1227 rumah sakit di Indonesia. Sistem ini berbeda yang membutuhkan software khusus ini berbeda dengan sistem pelayanan kesehatan sebelumnya. Dimana rumah sakit mengenakan biaya pada setiap pemeriksaan dan mengenakan sistem fee for services atau setiap pemeriksaan dan pengobatan akan dikenakan biaya sesuai dengan tarif yang ada.  

Namun sistem ini menggunakan sistem tarif prospektif yang paket. Tarif yang dikenakan akan konstan berapa pun dan apapun tindakan yang dilakukan. Dan pasien akan tetap tahu besaran dan jumlah biaya sebelum tindakan dilakukan. Sehingga adanya kepastian dalam pelayanan dengan prioritas pasien bukan berdasarkan dari berapa yang mereka bayar melainkan parahnya suatu penyakit. Dan mengurangi juga pemeriksaan serta penggunaan alat medis yang berlebihan oleh tenaga medis jadi bisa mengurangi resiko yang dihadapi oleh pasien.

Tak hanya bagi pasien bagi pemerintah pun sistem ini berguna, karena bisa meningkatkan efisiensi dalam pengalokasian anggaran kesehatan. Kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pun meningkat. Dan penghitungan tarif pelayanan lebih objektifkan karena didasarkan pada biaya yang sebenarnya.