Teknopreneur.com – Beberapa tahun terahir cuaca di berbagai belahan dunia terasa berbeda (mengalami perubahan). Menurut para ahli dan ilmuan, hal itu dikarenakan bertambahnya gas emisi rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global, dan tentu efek dominonya akan berakibat terhadap perubahan iklim dunia. Perserikatan Bangsa – Bangsa dalam hal ini menyarankan kepada pemerintah yang ada untuk memfokuskan sumber daya energinya  terhadap energi terbarukan (Renewable Energy).

Menurut hasil penelitian dari ilmuan PBB, dunia membutuhkan tiga kali lipat untuk memenuhi kebutuhan energinya dengan menggunakan energi terbarukan, ini diperlukan untuk menghindari efek terburuk dari pemanasan global. Dalam studi para ilmuan yang paling komprehensif terhadap pemanasan global, mereka menekankan  apabila kita bisa menahan laju gas rumah kaca maka dapat mengatasi kenaikan suhu global. Tentunya menambahkan biaya (untuk proyek energy terbarukan) dan ketergantungan terhadap teknologi.

Para peneliti menjelaskan, bahwa pertumbuhan emisi mengalami kenaikan dari 1,3% per tahun periode 2000 – 2010 menjadi 2,2% per tahun setelah periode tersebut (artinya dari 2010 – 2014 sekarang). Jonathan Grant, direktur perubahan iklim konsultan PwC di London, Inggris, berargument yang mempertanyakan “Pada tahun 2100 baik anda atau siapa apakah memiliki beberpa pembangkit listrik bahan bakar fosil dengan penangkapan dan penyimpanan karbonnya, atau peralihan lengkap untuk energi terbarukan dan penyimpanan energi secara smart?”.

Tentunya pertanyaan itu harus dipikirkan oleh pemerintah, apakah tetap bertahan dengan energi konvensional yang sudah jelas dampaknya, atau dengan beralih ke energi terbarukan dengan meningkatkan dan memfokuskan kebutuhan energi  dalam negri dengan menggunakan energi yang ramah terhadap lingkungan.