Teknopreneur.com- Peneliti teknopreneur, Romi Satria Wahono mengatakan tingkat pertumbuhan software di Indonesia bisa dilihat dari data Sourcingline yang hasil surveynya tercatat bahwa Indonesia peringkat nomor dua dunia untuk outsourcing software development setelah India dengan indeks 6,7. Namun dari segi cost competitiveness di atas India, karena di Indonesia harganya memang masih murah.

IDC merilis untuk perbelanjaan software tahun 2013 nilai belanja software di Indonesia mencapai US$ 350 Jt dan estimasi tahun 2014 diestimasikan mencapai US$700 Jt. Nilai ini mengindikasikan  adanya pertumbuhan pengembangan software di Indonesia.

Menurut IDC, belanja software pada 2014 naik, karena pada tahun tersebut Indonesia memasuki masa kampanye pemilihan umum. Selain itu, beberapa regulasi baru terkait TI juga diperkirakan masuk sehingga mendorong pembelanjaan TI.  Sudev Bangah, Associate Director and Head of Indonesia Operations PT IDC Indonesia memprediksi, dalam lima tahun ke depan, software akuntansi berbasis cloud akan laku di Indonesia. “Dari estimasi ini, Indonesia dinilai IDC sebagai negara di Asia Tenggara dengan pertumbuhan belanja TI tertinggi,” ujarnya.

Menurut pengamatan Gartner terdapat 70-80 ribu software developer di Indonesia namun pada kenyataannya industri yang bergerak di sana baru sekitar 500 ribu. Itupun tak semuanya aktif karena siklusnya pendek. Menurut Djarot ada sekitar 250 perusahaan yang terdaftar sebagai anggota Aspiluki dan yang menjadi anggota aktif hanya 75. Menurutnya banyak perusahaan software yang bermunculan namun tak sedikit pula yang menghilang di tengah jalan.

Romi pun mengatakan hal yang sama, menurutnya hanya sekitar 70 perusahaan yang masih mendevelop software hingga saat ini kebanyakan software house yang bergerak di bidang  business software seperti software pajak, accounting, dan payroll.  Pasar software Indonesia meliputi berbagai perusahaan besar, UKM, layanan kesehatan, sekolah, Universitas, BUMN, pemerintah daerah maupun pusat dan banyak lainnya.